Rahasia Rasa Syukur di Malam Qunutan, atau yang dikenal juga sebagai Malam Kupatan, merupakan tradisi unik yang dilakukan di di beberapa masyarakat Cilegon- Banten pada pertengahan bulan Ramadan. Tradisi ini dipenuhi dengan kebersamaan dan identik dengan kehadiran ketupat. Mari kita telusuri lebih lanjut tentang Malam Qunutan dan peran ketupat dalam tradisi ini.
Baca juga : Mengenal Tradisi Qunutan, Makan Ketupat di Pertengahan Ramadhan
Signifikansi Malam Qunutan
Malam Qunutan, yang juga disebut sebagai Kupatan, dirayakan pada malam ke-15 atau ke-16 bulan Ramadan. Kata “Qunutan” berasal dari bahasa Arab yang berarti “doa yang dibaca pada pertengahan shalat qiyam.” Namun, di masyarakat Banten, Malam Qunutan lebih bermakna sebagai ungkapan rasa syukur atas setengah perjalanan ibadah puasa yang telah dilalui dan sebagai persiapan untuk setengah ibadah puasa yang masih akan dilalui.
Peran Ketupat dalam Malam Qunutan
Ketupat, yang merupakan anyaman dari janur (daun kelapa muda) yang diisi beras dan direbus hingga matang, memiliki peran penting dalam Malam Qunutan. Ketika memasuki hari ke-15 atau ke-16 Ramadan, biasanya para ibu di rumah akan sibuk menyiapkan ketupat. Setelah matang, ketupat dibawa ke masjid atau musholla menjelang waktu shalat magrib.
Prosesi Malam Qunutan
1. Membawa Ketupat ke Masjid: Masyarakat berbondong-bondong membawa ketupat ke masjid atau musholla.
2. Shalat Magrib Berjamaah:Setelah berbuka puasa, masyarakat melaksanakan shalat magrib secara berjamaah.
3. Tahlilan: Setelah shalat magrib, biasanya diadakan tahlilan, yakni doa untuk mendoakan para arwah.
4. Doa Qunutan:Dilanjutkan dengan pembacaan doa qunutan yang memuat ucapan syukur dan harapan untuk dapat melanjutkan ibadah puasa hingga akhir Ramadan.
5. Silaturahmi dan Berbagi Ketupat:Setelah rangkaian doa selesai, masyarakat saling bersilaturahmi dan berbagi ketupat yang dibawa sebelumnya.
Filosofi Ketupat di Malam Qunutan
Bentuk ketupat yang berbentuk segi empat dimaknai sebagai simbol keteguhan hati dalam menjalankan ibadah puasa. Proses pembuatan ketupat yang melalui anyaman janur yang rapat melambangkan persatuan dan kekompakan masyarakat. Sementara itu, beras yang menjadi isi ketupat melambangkan rezeki dan keberkahan yang dibagikan bersama.
Malam Qunutan: Lebih dari sekadar Ketupat
Meskipun ketupat menjadi ciri khas tradisi Malam Qunutan, esensi utamanya terletak pada rasa syukur dan mempererat tali silaturahmi. Tradisi ini menjadi penyegar dan penyemangat untuk melanjutkan separuh ibadah puasa yang tersisa.
Baca Juga : Rahasa di bulan ramadan





