Beranda Sastra Puisi: Saat Bata Menyapa Kawis – Sebuah Penghormatan terhadap Warisan Banten oleh...

Puisi: Saat Bata Menyapa Kawis – Sebuah Penghormatan terhadap Warisan Banten oleh Ahdi Z. Amri

744
0

Gawe kuta baluwarti, bata kalawan kawis, 

Di Banten Lama, berdiri sebuah arti. 

Tak sekadar tembok, tak hanya benteng, 

Ini peradaban, warisan abadi dijunjung tinggi.”

 

Bata, karya tangan leluhur, 

Kawis, anugrah Sang Illahi. 

Bersama keduanya, bata dan kawis, 

Membangun Banten, penuh kemuliaan.”

 

Sultan Ageng Tirtayasa, bertitah:    

“Rakyatku, dengarkanlah!  Kita berkumpul di sini, dengan doa dan air mata sebagai saksi, Banten adalah tanah kebangkitan, kita bersatu melawan penjajahan dengan segenap jiwa.”

“Walau tubuh ini terhempas berkali-kali, namun, ruh perjuangan tak pernah mati, Banten, tanah kebanggaan kita, dan tanah ini, takkan pernah tunduk pada siapapun!”

 

Gawe kuta baluwarti, bata kalawan kawis, 

Nilai tertanam, menguatkan kita, 

Di setiap bata, tersimpan semangat, 

Di setiap kawis, kekuatan takkan pudar.”

 

Banten, warisan asa

Bata dan kawis, lambang keteguhan. 

Bata dan kawis, lambang pembangunan

Bata dan kawis, bermakna jiwa dan raga

 

Sultan Ageng Tirtayasa, bertutur:   

“Bata tak hanya sekedar batu, kawis tak hanya sekedar karang, Di dalamnya, terpatri jiwa dan raga kita, Banten, kau dibangun dari darah dan doa, Setiap bata adalah saksi keteguhan, setiap kawis adalah lambang keabadian.”

 

Gawe kuta baluwarti, bata kalawan kawis,

Di setiap bata, tersembunyi nyawa yang membara,

Di setiap kawis, terukir kekuatan yang takkan sirna.

Bata dan kawis, bermakna jiwa dan raga

 

Sultan Ageng Tirtayasa, berucap:

“Banten yang kukenal bukanlah sekedar negeri, Tapi benteng yang hidup dalam tiap anak dan cucu,  bata yang dibangun dengan jiwa, kawis yang ditempa oleh kesetiaan,  warisan ini, takkan lapuk dimakan zaman.”

 

Banten, warisan leluhur,

Bata dan kawis, lambang keteguhan.

Bata dan kawis, lambang pembangunan

Bata dan kawis, bermakna jiwa dan raga

 

Sultan Ageng Tirtayasa, berujar:

“Kami takkan boleh berhenti berjuang,  Selama bata dan kawis menjadi penjaga bumi Banten,

Kami, warisan Banten, takkan tertundukkan.”

 

Cilegon, 19 Oktober 2024

 

Penulis : Ahdi Zukhruf Amri, lahir di Cilegon pada tanggal 8 September 1981. Saat ini, berdomisili di Link. Tegalwangi Lawas, RT 001 RW 006, Kelurahan Rawa Arum, Kecamatan Gerogol-Cilegon, dengan kode pos 42436.

Ahdi Zukhruf Amri, adalah lulusan S2 Pendidikan Bahasa Inggris dari Universitas Sultan Ageng Tirtayasa pada tahun 2019. Selama perjalanan karirnya telah berperan sebagai guru, dosen, seniman, dan jurnalis. Pengalaman di dunia teater cukup luas dan beragam, mencerminkan dedikasinya terhadap seni pertunjukan dan sastra.

Selama periode 2001 hingga 2024, pernah terlibat dalam berbagai pementasan teater yang menonjol, di antaranya sebagai produser dan sutradara untuk beberapa karya yang sukses dipentaskan di Cilegon dan sekitarnya. Beberapa pementasan yang pernah sutradarai meliputi “Barabah” (2011), “Geger Cilegon 1888” (2010), dan “Ubrug Cilegon” (2022-2024).

Tak hanya itu, dia juga telah menulis berbagai naskah teater yang diakui, seperti “Ki Ageng Ireng dan Desa Tegal Lega” (2023) dan “Kiyai Jendral: Brigjen Syamun” (2019). Melalui setiap karyanya berusaha mengangkat nilai-nilai budaya dan sejarah, serta menyampaikan pesan yang mendalam kepada penonton.

Sebagai seorang seniman dan pendidik yang berkomitmen untuk terus berkontribusi pada dunia teater dan pendidikan. Dia percaya bahwa seni dapat menjadi alat yang kuat untuk mengedukasi dan menginspirasi masyarakat. Dengan semangat dan dedikasi, terus berkarya.