Beranda Sastra Dari Nur ke Rahmah, Puisi Ahdi Z. Amri 

Dari Nur ke Rahmah, Puisi Ahdi Z. Amri 

909
0

Di tanah yang dikelilingi padang tandus,

lahirlah seorang anak dari Bani Hasyim,

Muhammad—yang yatim sejak dalam buaian,

namun ditakdirkan menuntun semesta menuju Nur.

 

Ia tumbuh dalam kesunyian Mekkah,

dengan kejujuran yang mengalahkan zaman,

hingga disebut Al-Amîn—yang terpercaya—

oleh kawan dan lawan.

 

Di malam sunyi, ia mendaki Jabal Nur,

membawa beban rindu akan kebenaran,

hingga di Gua Hira turun Nur langit,

“Iqra’…” kata pertama yang mengguncang bumi.

 

Sejak itu, hidupnya bukan lagi miliknya,

tapi milik wahyu dan risalah.

Ia berjalan membawa firman,

melewati caci, hina, dan ancaman.

 

Saat Mekkah tak lagi ramah,

ia berlindung di Jabal Tsur,

bersama Sahabat setia,

tiga malam dalam gelap,

ditemani doa dan keyakinan.

 

Madinah menyambut,

seperti tanah yang haus akan hujan.

Ia bangun peradaban dari kasih dan hukum,

memersatukan yang lama bertikai,

membentuk umat dari cinta dan akhlak.

 

Tapi jalan kenabian bukanlah taman bunga,

di Jabal Uhud, darah syuhada tertumpah,

Salah satu paman tercinta, gugur—

dan Rasul menangis dalam diam.

 

Tahun demi tahun, wahyu terus turun,

umat kian besar, Islam kian jaya.

Lalu, pada haji terakhirnya,

di Jabal Rahmah di Arafah,

beliau berdiri menyampaikan pesan terakhir:

“Hari ini telah Kusempurnakan agamamu…”

 

Tak lama kemudian,

Nabi kembali ke pangkuan Kekasihnya.

Madinah bersedih, bumi pun berduka,

tapi jejaknya tetap kekal,

di pasir, di gunung, di dada manusia.

 

Kisah ini bukan sekadar sejarah,

tapi undangan untuk melanjutkan jejak—

dengan cinta, sabar, dan iman,

di jalan yang pernah diterangi

oleh sang Nabi terakhir,

yang hidupnya adalah wahyu

dan wafatnya adalah rindu.

(Mekah, 15 Juni 2025)