Beranda Pendidikan Artikel Ilmiah: PENGARUH PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN BERDASARKAN MASALAH (PROBLEM BASED INSTRUCTION) TERHADAP...

Artikel Ilmiah: PENGARUH PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN BERDASARKAN MASALAH (PROBLEM BASED INSTRUCTION) TERHADAP MOTIVASI BELAJAR DAN PRESTASI BELAJAR SISWA PADA PEMBELAJARAN FISIKA, Oleh:M.Taufiqurrohim Syah

527
0

ABSTRAKPenelitian ini dilatarbelakangi adanya fakta bahwa motivasi belajar dan prestasi belajar siswa masih rendah. salah satu sebab rendahnya motivasi belajar dan prestasi belajar adalah kurang tepatnya model pembelajaran yang digunakan dalam pembelajaran. Model pembelajaran Problem Based Instruction (PBI) dapat menjadi salah satu alternatif model pembelajaran yang diterapkan karena model PBI dapat meningkatkan prestasi belajar siswa dan motivasi belajar siswa. Tujuan dalam penelitian ini yaitu untuk mengetahui pengaruh penerapan model PBI terhadap motivasi belajar dan prestasi belajar siswa pada pembelajaran fisika dibandingkan penerapan model pembelajaran yang lain. model pembelajaran yang lain yaitu model pembelajaran yang biasa dilakukan guru di sekolah. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode quasi eksperiment dengan desain penelitian randomized control group pretest and posttest design. Sampel penelitian diambil secara random kelas sebanyak dua kelas dari populasi siswa kelas X SMA Negeri 18 Bandung Tahun Pelajaran 2009/2010. Pengambilan data dilakukan dengan menggunakan instrumen tes prestasi belajar, angket motivasi belajar serta lembar observasi aktivitas siswa dan guru. Hasil pengolahan data angket motivasi diperoleh rata-rata motivasi belajar siswa kelas eksperimen 163,95 dengan kategori tinggi sedangkan 155,25 dengan kategori tinggi untuk kelas kontrol. Hasil uji hipotesis menunjukkan bahwa motivasi belajar kelas eksperimen dan kelas kontrol berbeda secara signifikan pada taraf kepercayaan 95% (signifikansi 0,05). Hasil pengolahan data prestasi belajar diperoleh rata-rata gain prestasi belajar kelas eksperimen 11,14 sedangkan 6,14 untuk kelas control 6,14. Hasil uji hipotesis menunjukkan bahwa peningkatan prestasi belajar kelas eksperimen dan kelas kontrol berbeda secara signifikan pada taraf kepercayaan 95% (signifikansi 0,05). penerapan model pbi lebih efektif dalam meningkatkan prestasi belajar siswa dibandingkan model pembelajaran yang lain, hal ini ditunjukkan oleh gain ternormalisasi sebesar 0,57 dengan kategori sedang untuk kelas eksperimen dan sebesar 0,30 dengan kategori rendah untuk kelas kontrol. dengan demikian, penerapan model pembelajaran berdasarkan masalah (pbi) lebih berpengaruh terhadap motivasi belajar dan prestasi belajar siswa dibandingkan yang penerapkan model pembelajaran yang lain pada pembelajaran fisika.

Kata Kunci : Problem Based Instruction (PBI),  prestasi belajar, motivasi belajar.

 

 

 

PENDAHULUAN

Pendidikan Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) seperti yang tercantum dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) berkaitan dengan cara mencari tahu tentang fenomena alam secara sistematis, sehingga IPA bukan hanya penguasaan kumpulan pengetahuan yang berupa fakta-fakta, konsep-konsep, atau prinsip-prinsip saja tetapi juga merupakan suatu proses penemuan. Pendidikan IPA diharapkan dapat menjadi wahana bagi peserta didik untuk mempelajari diri sendiri dan alam sekitar (Depdiknas, 2007).

Mata pelajaran fisika adalah salah satu mata pelajaran dalam rumpun IPA yang dapat mengembangkan mengembangkan kemampuan berpikir analitis induktif dan deduktif dalam menyelesaikan masalah yang berkaitan dengan peristiwa alam sekitar. Mata pelajaran fisika dipandang penting untuk diajarkan sebagai mata pelajaran tersendiri karena selain memberikan bekal ilmu kepada peserta didik, pelajaran fisika dimaksudkan sebagai wahana untuk menumbuhkan kemampuan berpikir yang berguna untuk memecahkan masalah di dalam kehidupan sehari-hari (Depdiknas, 2007). Oleh karena itu, pembelajaran fisika di sekolah harus dilaksanakan dan dikelola dengan baik agar pembelajaran fisika yang dilaksanakan dapat mencapai tujuan yang diharapkan.

Dari penjelasan di atas dapat diperoleh keterangan bahwa proses pembelajaran fisika di sekolah harus mampu memberikan pengalaman ilmiah kepada siswa, memberikan kesempatan bekerjasama dengan orang lain, mengembangkan kemampuan berpikir untuk menjelaskan berbagai peristiwa alam dan menyelesaikan masalah, menguasai konsep serta mempunyai sikap percaya diri yang kemudian proses pembelajaran yang dilaksanakan mampu mencapai hasil belajar yang baik, dalam hal ini prestasi belajar.

Dalam proses pembelajaran di sekolah, harus mampu memberikan dan mengembangkan berbagai kemampuan sebagaimana disebutkan di atas, sehingga kemampuan siswa meningkat. Hal ini seperti pernyataan yang diungkapkan Dimyati dan Mudjiono (2006:25), bahwa dengan belajar maka kemampuan siswa akan meningkat. Dimyati dan Mudjiono juga menyatakan bahwa dengan belajar maka ranah-ranah kognitif siswa semakin berfungsi sehingga pada ranah kognitif siswa akan memiliki pengetahuan, pemahaman, dapat menerapkan, melakukan analisis, sintesis dan evaluasi. Dapat dikatakan bahwa melalui proses pembelajaran dapat menghasilkan perubahan-perubahan pada siswa, yaitu berbagai kemampuan setelah proses pembelajaran. Perubahan tersebut menurut Winkel (1996:53) meliputi perubahan-perubahan dalam pengetahuan-pemahaman, keterampilan dan nilai-sikap. Dalam proses pembelajaran yang dilaksanakan pasti berkaitan juga dengan hasil belajar dalam hal ini prestasi belajar, karena kegiatan belajar merupakan proses, sedangkan prestasi merupakan hasil dari proses belajar. Hal ini sesuai dengan pernyataan Ginting (2008:87), yang menyatakan bahwa pestasi belajar siswa adalah hasil dari berbagai upaya dan daya yang tercermin dari partisipasi belajar yang dilakukan siswa dalam mempelajari materi pelajaran yang dilakukan oleh guru.

Berkaitan dengan proses pembelajaran, dalam proses belajar mengajar tidak akan terlepas dari motivasi belajar. Hal ini sebagaimana dinyatakan Uno (2008:23) bahwa pembelajaran dan motivasi merupakan dua hal yang saling mempengaruhi. Selain itu, Ginting (2008:86-87) juga menyatakan bahwa Dalam pembelajaran, motivasi adalah sesuatu yang menggerakkan atau    mendorong siswa untuk belajar atau menguasai materi pembelajaran yang sedang diikutinya. Tanpa motivasi, siswa tidak akan tertarik dan serius dalam mengikuti pembelajaran Sebaliknya dengan adanya motivasi yang tinggi, siswa akan tertarik dan terlibat aktif bahkan berinisiatif dalam proses pembelajaran. Dengan motivasi yang tinggi siswa akan berupaya sekuat-kuatnya dan menempuh berbagai strategi positif untuk mencapai keberhasilan dalam belajar.

Dari hasil penelitian dilapangan, kenyataan yang terjadi masih belum sesuai dengan yang diharapkan. Hasil penelitian menunjukkan prestasi belajar dari proses pembelajaran fisika di sekolah masih rendah. Hal ini dibuktikan dengan perolehan nilai siswa yang masih rendah yaitu nilai rata-rata ulangan harian 48,33 sedangkan nilai rata-rata nilai ulangan umum adalah 41,07. Hal ini diperkuat juga dari hasil wawancara yang menyatakan bahwa nilai harian dan nilai ulangan umum masih rendah. Selain itu banyak diantara siswa tidak menyukai pembelajaran fisika karena masih mengasumsikan fisika adalah pelajaran yang sulit. Selain itu siswa merasa belajar fisika tidak mengasikkan dan sering merasa malas. Kemudian siswa juga tidak terdorong atau termotivasi untuk giat belajar, sehingga motivasi belajar siswa rendah. Dari penelitian tersebut, dapat dikatakan bahwa motivasi belajar siswa masih rendah. Motivasi belajar siswa akan berpengaruh terhadap pembelajaran sehingga kemampuan seperti sikap ilmiah, kemampuan berpikir (aspek kognitif), dan penguasaan konsep tidak akan maksimal.

Dari hasil penelitian juga dilapangan menunjukkan bahwa diantara proses pembelajaran yang dilaksanakan adalah penyampaian penjelasan (ceramah), tanya jawab, demonstrasi (kadang-kadang), dan penugasan berupa pemberian contoh. Pada proses pembelajaran, siswa lebih berperan sebagai penerima informasi, mencatat dan mendengarkan apa yang disampaikan guru. Dari penjelasan tersebut dapat dikatakan siswa adalah pasif dan hanya menerima informasi sehingga siswa kurang mengembangkan kemampuan berpikirnya dan kurang menggali informasi atau penjelasan yang diterimanya.

Dari hasil observasi yang dilakukan, dapat dikatakan bahwa motivasi belajar dan prestasi belajar siswa masih rendah. Rendahnya motivasi belajar dan prestasi belajar siswa tidak terlepas dari pengaruh  proses pembelajaran yang diterapkan. Berkaitan dengan komponen yang berpengaruh dalam proses belajar mengajar, Wartono (2003:5-6) menyatakan bahwa suatu proses belajar mengajar dapat berjalan bila seluruh komponen yang berpengaruh dalam proses belajar mengajar saling mendukung dalam rangka mencapai tujuan. Misalnya siswanya termotivasi dengan baik, materi pelajaran dikemas sedemikian rupa sehingga menarik, tujuannya  yang ingin dicapai jelas, dan hasilnya dapat dirasakan oleh siswa.

Permasalahannya kemudian adalah bagaimana menentukan alternatif model pembelajaran yang dapat membangkitkan dan mengembangkan motivasi belajar siswa, menyajikan fenomena atau masalah yang berkaitan dalam kehidupan sehari-hari, memberikan kesempatan kerjasama kepada siswa, pembelajaran yang memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengembangkan kemampuan berpikir, dapat mempelajari berbagai konsep dan mengkaitkannya dalam kehidupan nyata sehingga hasil belajar dalam hal ini prestasi belajar siswa meningkat. Melihat permasalahan tersebut perlu diupayakan model pembelajaran tertentu yang sesuai dengan harapan tersebut.

Salah satu alternatif model pembelajaran yang dipandang dapat membantu dan mempermudah siswa dalam mengembangkan kemampuan berpikir, pemecahan masalah, melatih keterampilan intelektual yang kemudian dapat meningkatkan prestasi belajar serta mengembangkan dan meningkatkan motivasi belajar siswa adalah model pembelajaran berdasarkan masalah atau problem based instruction (PBI). Menurut Ibrahim dan Nur (2005:3) model PBI merupakan pembelajaran yang menyajikan masalah, yang kemudian digunakan untuk merangsang berfikir tingkat tinggi yang berorientasi pada masalah. Kemudian menurut Arends (Trianto, 2007:66), juga menyatakan bahwa dengan PBI, siswa dapat menyusun pengetahuan mereka sendiri, mengembangkan inkuiri dan keteramplan berpikir tingkat lebih tinggi, mengembangkan kemandirian dan kepercayaan diri. Dari penjelasan tersebut, maka model PBI dapat mengembangkan kemampuan berpikir dan  kemampuan berpikir/intelektual merupakan aspek kognitif. Sehingga dengan diterapkannya model pembelajaran berdasarkan masalah, diharapkan dapat meningkatkan prestasi belajar siswa.

Dengan diterapkannya PBI dalam pembelajaran, dapat berpengaruh terhadap motivasi belajar siswa sehingga motivasi belajar dapat berkembang dan mengalami peningkatan. Hal ini berdasarkan pada anggapan dasar bahwa situasi teka-teki dan masalah pada model pembelajaran PBI akan merangsang rasa ingin tahu siswa sehingga melibatkan mereka pada inquiri (Ibrahim dan Nur, 2005:26), dan kegiatan inkuiri dalam PBI dimaksudkan untuk memotivasi penyelidikan. Menurut Piaget (Ibrahim dan Nur, 2005:17) dengan adanya rasa ingin tahu dapat memotivasi siswa untuk secara aktif membangun tampilan dalam otak mereka tentang lingkungan yang mereka hayati. Hal yang senada juga disampaikan Trianto (2007:73) bahwa masalah yang diberikan kepada siswa dalam PBI dapat meningkatkan motivasi siswa. Dalam tahap pembelajaran PBI, siswa didorong juga untuk kerjasama dalam menyelesaikan tugas. Menurut Trianto (2007:70), bekerjasama memberikan motivasi untuk secara berkelanjutan terlibat dalam tugas-tugas kompleks dan untuk mengembangkan keterampilan sosial dan keterampilan berpikir. Selain itu penerapan PBI menurut Ibrahim dan Nur (2005:30) juga dapat memotivasi siswa untuk bekerja dengan beragam material dan peralatan dalam pembelajaran.

METODE PENELITIAN

Metode penelitian yang digunakan adalah quasi exsperiment atau eksperimen semu. Variabel bebas dalam penelitian ini adalah model pembelajaran berdasarkan masalah (Problem based instruction) sedangkan yang menjadi variabel terikatnya adalah prestasi belajar siswa dan motivasi belajar siswa. Desain penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah  Randomized Control Group Pretest-Posttest Design. Dengan menggunakan desain ini subyek penelitian dibagi dalam dua kelas/kelompok, satu kelas sebagai kelas eksperimen dan satu kelompok lagi sebagai kelompok kontrol yang dipilih secara acak dan mendapat perlakuan yang berbeda. Kelas eksperimen akan diberi perlakuan dengan menerapkan model pembelajaran berdasarkan masalah (problem based instruction) sedangkan kelas kontrol akan diberi perlakuan model pembelajaran yang lain.

Populasi adalah seluruh siswa kelas X di salah satu SMA Negeri di Kota Bandung semester genap tahun ajaran 2009/2010 yang tersebar dalam empat kelas.  Adapun penentuan sampel penelitian dengan menggunakan cara random kelas. Karena dalam penelitian ini dibutuhkan dua kelas, maka dari empat kelas terpilih dua kelas yaitu kelas kelas X-7 sebagai kelas kontrol sebanyak 36 siswa dan dan kelas   X-8 sebagai kelas eksperimen sebanyak 37 siswa. Agar model pembelajaran yang digunakan tidak tertukar atau menggunakan model yang sama, hal yang diperhatikan/dikontrol adalah sintaks dan metode pembelajaran yang digunakan sehingga jelas perbedaan model yang digunakan antara kelas eksperimen dan kelas kontrol.

Teknik pengumpulan data untuk prestasi belajar ranah kognitif menggunakan tes tertulis. Instrumen ini mencakup ranah kognitif pada aspek pengetahuan (C1), pemahaman (C2), penerapan (C3), dan analisis (C4) dan memiliki kesesuaian dengan indikator soal. Tes dilakukan dua kali yaitu sebelum perlakuan (pretest) dan sesudah perlakuan (posttest). Bentuk tes yang digunakan adalah bentuk pilihan ganda dengan lima pilihan jawaban. Tes yang digunakan untuk pretest dan posttes merupakan tes yang sama, dimaksudkan supaya tidak ada pengaruh perbedaan kualitas instrumen terhadap perubahan pengetahuan dan pemahaman yang terjadi.

Untuk motivasi belajar digunakan angket motivasi belajar. Angket yang digunakan adalah angket yang bersifat tertutup, dan  mengggunakan skala Likert, sehingga diperoleh data ordinal yang kemudian menghasilkan data yang dapat dikelompokkan ke dalam kategori-kategi tertentu. Dalam angket terdapat dua jenis pernyataan yaitu pernyataan mendukung (favourable) dan pernyataan tak mendukung (unfavourable). Kategori jawaban pada angket terdiri dari lima, yaitu sangat setuju (SS), setuju (S), tidak tahu (TT), tidak setuju (TS), dan sangat tidak setuju (STS).  Data yang diperoleh dari angket digunakan untuk mengetahui profil motivasi belajar siswa setelah diterapkannya model pembelajaran berdasarkan masalah (problem based instruction) pada kelas ekesperimen dan setelah diterapkannnya model pembelajaran lain pada kelas kontrol. Untuk mengetahui aktivitas guru dan siswa saat pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran berdasarkan masalah yang diterapkan digunakan lembar observasi. Lembar observasi berbentuk rating scale, observer hanya memberikan tanda cek (√) pada kolom yang sesuai dengan aktivitas yang diobservasi.

Indikator motivasi yang digunakan adalah indikator dalam dalam term-term tertentu menurut Makmun (2001:40), antara lain : (a) durasi kegiatan (berapa lama kemampuan penggunaan waktu untuk belajar), (b) frekuensi kegiatan (berapa sering kegiatan dilakukan dalam periode waktu tertentu), (c) persistensinya (ketetapan dan kelekatannya) pada tujuan kegiatan, (d) ketabahan, keuletan, dan kemampuannya dalam menghadapi rintangan dan kesulitan untuk mencapai tujuan, (e) devosi (pengabdian) dan pengorbanan (uang, tenaga, pikiran, bahkan jiwanya atau nyawanya) untuk mencapai tujuan, (f) tingkat aspirasinya (maksud, rencana, cita-cita dan sasaran atau target), (g) tingkat kualifikasi prestasi atau produk atau output yang dicapai dari kegiatannya dan (h) arah sikapnya terhadap sasaran kegiatan (like or dislike, positif atau negatif).

Instrumen tes yang akan digunakan dalam penelitian yaitu sebagai tes awal dan tes akhir  pada kelas yang dijadikan sampel penelitian, terlebih dahulu soal diujicobakan di kelas yang telah mengalami pembelajaran rangkaian listrik arus searah yaitu salah satu kelas yang berada di sekolah tempat penelitian dilaksanakan. Data yang diperoleh dari hasil uji coba selanjutnya dianalisis. Analisis ini meliputi uji validitas, uji reliabilitas, uji daya pembeda dan uji tingkat kesukaran. Untuk pengolahan data tes prestasi belajar dilakukan penskoran, menghitung rata-rata (mean), dan menentukan nilai gain.  Untuk menguji hipotesis digunakan uji normalias, uji homogenitas,  uji t. Sedangkan data motivsi belajar dilakukan penskoran, menghitung rata-rata dan pengkategorian motivasi. Adapun perumusan kategori motivasi menggunakan kategori menurut Anwar (2010:107-108) adalah sebagai berikut:  ,  ,      , ,       .

HASIL DAN PEMBAHASAN

Keterlaksanaan Model Pembelajaran Berdasarkan Masalah (PBI)

Model pembelajaran berdasarkan masalah secara garis besar merupakan penyajian kepada siswa tentang situasi masalah yang autentik dan bermakna yang dapat memberikan kemudahan kepada mereka untuk melakukan penyelidikan dan inkuiri. Pembelajaran  berdasarkan masalah  merupakan model pembelajaran yang merujuk pada pendekatan Problem Based Learning (PBL) yaitu suatu model pembelajaran yang menghadapkan siswa pada masalah dalam kehidupan sehari-hari untuk belajar, yang memulai proses pembelajaran dengan mengemukakan  masalah.

Tahapan-tahapan model pembelajaran berdasarkan masalah yang dilakukan yaitu dimulai dengan memperkenalkan siswa dengan suatu situasi masalah, mengorganisasikan siswa dalam kelompok belajar, siswa melakukan kegiatan penyelidikan kemudian membuat karya atau laporan, mempersentasikannya dan diakhiri dengan penyajian serta analisis dan evaluasi proses pemecahan masalah.

Materi pelajaran yang dijadikan topik pembelajaran pada pertemuan ke-1 yaitu mengenai hukum Ohm. Untuk materi pelajaran yang dijadikan topik pembelajaran pada pertemuan ke-2 yaitu mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi hambatan pada suatu kawat penghantar, dan pada pertemuan ke-3 materi pelajaran yang dijadikan topik pembelajaran adalah mengenai rangkaian seri dan rangkaian paralel dan Hukum 1 Kirchoff. Keterlaksanaan model pembelajaran berdasarkan masalah (problem based instruction) dilakukan melalui pengamatan oleh observer. Rekapitulasi keterlaksanaan model pembelajaran oleh guru berdasarkan lembar observasi adalah sebagai berikut pembelajaran ke-1 persentase keterlaksanaan 98,8 % (sangat baik), pembelajaran ke-2 persentase keterlaksanaan 100 % (sangat baik), dan pembelajaran ke-3 persentase keterlaksanaan 100 % (sangat baik). Untuk observasi yang dilakukan terhadap aktivitas siswa, baik pertemuan ke-1, ke-2 dan ke-3 persentase keterlaksaan mencapaii 100% dengan kategori sangat baik.  Berdasarkan data yang diperoleh model pembelajaran berdasarkan masalah telah dilaksanakan dengan baik oleh guru.

Hasil Tes Prestasi Belajar

Setelah sampel penelitian diberi perlakuan dengan menerapkan model pembelajaran terhadap materi rangkaian listrik arus searah, prestasi belajar siswa mengalami peningkatan dibandingkan sebelumnya. Peningkatan prestasi belajar ini terjadi bukan hanya pada kelas eksperimen, melainkan juga pada kelas kontrol. Secara umum skor tes prestasi belajar siswa yang diperoleh kelas eksperimen dan kelas kontrol disajikan dalam  tabel berikut:

Tabel 1. Rekapitulasi Skor Siswa pada Tes Prestasi Belajar

Skor Kelas EksperimenSkor Kelas Kontrol
Tes awalTes akhir<G><g>Tes awalTes akhir<G><g>
Skor%Skor%Skor%Skor%
12,1638,0123,3072,8011,140,5711,8336,9817,9756,166,140,30
KriteriaSedangKriteriaRendah

 

Berdasarkan tabel 1 di atas tampak bahwa rata-rata skor tes akhir (posttest) prestasi belajar siswa lebih besar daripada rata-rata skor awal (pretest). Dari data ini, dapat diketahui pula bahwa rata-rata gain yang dinormalisasi  kelas eksperimen lebih besar daripada rata-rata gain yang dinormalisasi kelas kontrol. Dapat dikatakan secara umum, peningkatan prestasi belajar yang dicapai kelas eksperimen yang menerapkan model pembelajaran berdasarkan masalah (problem based instruction) lebih besar daripada peningkatan prestasi belajar kelas kontrol yang menggunakan pembelajaran yang lain. Peningkatan prestasi belajar ditunjukkan dengan rata-rata gain ternormalisasi sebesar 0,57 dengan kategori sedang untuk kelas eksperimen dan rata-rata gain ternormalisasi sebesar 0,30 dengan kategori rendah untuk kelas kontrol.

Untuk mengetahui apakah penerapan model pembelajaran berdasarkan masalah (problem based instruction) pada kelas eksperimen secara signifikan dapat lebih meningkatkan prestasi belajar siswa dibanding penerapan model pembelajaran yang lain pada kelas kontrol maka dilakukan uji hipotesis. Teknik analisis data yang digunakan untuk menguji normalitas adalah uji chi-kuadrat (). Adapun hasil perhitungan uji normalitas untuk data gain untuk kelas eksperimen X2hitung=0,97 dan kelas kontrol X2hitung=7,03 dengan X2tabel =7,81 maka dapat disimpulkan data terdistribusi normal.

Berdasarkan data diperoleh harga hitung < tabel pada taraf kepercayaan 95 % atau signifikansi 0,05 untuk data gain baik kelas eksperimen maupun kelas kontrol, artinya data gain berdistribusi normal. Selanjutnya dilakukan uji homogenitas antara varians gain kedua kelas. Hasil perhitungan uji homogenitas diperoleh Fhitung 1,00 dan Ftabel 1,754 sehingga bervariansi homogen.

Berdasarkan data diperoleh Fhitung < Ftabel maka dapat disimpulkan variansi data Gain kelas eksperimen dan kelas kontrol adalah homogen. Karena data Gain berdistribusi normal dan homogen maka untuk menguji hipotesis dilakukan uji t. Hasil uji hipotesis berdasarkan data gain kelas eksperimen dan kelas control diperoleh t hitung sebesar 5,966 dan t tabel 1,64 sehingga dapat disimpulkan hipotesis Ha1 diterima atau H01 di tolak.

Berdasarkan data diperoleh thitung > ttabel pada taraf kepercayaan 95 % (signifikansi 0,05) maka Ha1 diterima, artinya penerapan model pembelajaran berdasarkan masalah (problem based instruction) pada kelas eksperimen secara signifikan dapat meningkatkan prestasi belajar siswa dibandingkan penerapan model pembelajaran yang lain pada kelas kontrol. Berdasarkan perbandingan nilai gain yang dinormalisasi kedua kelas dan uji hipotesis diperoleh bahwa penerapan model pembelajaran berdasarkan masalah (problem based instruction) pada kelas eksperimen lebih efektif dalam meningkatkan prestasi belajar siswa dibandingkan penerapan model pembelajaran lain pada kelas kontrol. Berdasarkan pengolahan data, diperoleh rata-rata gain ternormalisasi untuk kelas eksperimen adalah sebesar 0,57 dengan kategori sedang sedangkan rata-rata gain ternormalisasi untuk kelas eksperimen adalah sebesar 0,30 dengan kategori rendah.

Hasil Angket Motivasi Belajar

Dari hasil penelitian diperoleh data angket motivasi belajar siswa baik dari kelas eksperimen maupun kelas kontrol. Pengisisan angket motivasi belajar dilakukan siswa setelah pembelajaran terakhir selesai. Hal ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh penerapan model pembelajaran yang diterapkan terhadap motivasi belajar siswa. Dari hasil pengisian angket oleh siswa baik oleh kelas eksperimen maupun kelas kontrol diperoleh skor rata-rata untuk kelas eksperimen 163,95 dengan kategori tinggi, sedangkan kelas kontrol 155,25 dengan kategori tinggi.  Dari data tersebut dapat dikatakan bahwa penerapan model pembelajaran berdasarkan masalah (problem based instruction) pada kelas eksperimen lebih berpengaruh terhadap motivasi belajar siswa dibandingkan motivasi belajar siswa pada kelas kontrol.  Sedangkan skor motivasi belajar untuk setiap indikator motivasi disajikan dalam data berikut :

Tabel 2 Skor Rata-rata Motivasi Belajar Siswa

Setiap Indikator Motivasi

NoIndikator MotivasiKelas EksperimenKelas Kontrol
Skor MotivasiKategoriSkor

Motivasi

Kategori
1Durasi Kegiatan22,19Tinggi21,81Tinggi
2Frekuensi kegiatan15,76Tinggi14,86Tinggi
3Persistensinya pada tujuan kegiatan14,38Tinggi13,89Tinggi
4Ketabahan, keuletan, dan kemampuannya dalam menghadapi rintangan dan kesulitan untuk mencapai tujuan23,16Tinggi22,25Tinggi
5Devosi dan pengorbanan untuk mencapai tujuan.23,05Tinggi22,83Tinggi
6 Tingkat aspirasinya16,54Tinggi15,42Tinggi
7Tingkat kualifikasi prestasi atau output yang dicapai24,43Tinggi21,42Tinggi
8 Arah sikapnya terhadap sasaran kegiatan24,43Tinggi22,78Tinggi

 

Berdasarkan tabel 2 di atas motivasi belajar siswa pada semua indikator berkategori tinggi baik kelas eksperimen maupun kelas kontrol. Berdasarkan hasil pengolahan angket motivasi belajar siswa, umumnya terdapat perbedaan dari skor rata-rata angket motivasi setiap indikatornya. Dari skor rata-rata motivasi tiap indikator, siswa kelas eksperimen lebih baik dari pada kelas kontrol.

Untuk mengetahui apakah penerapan model pembelajaran berdasarkan masalah (problem based instruction) pada kelas kontrol berpengaruh secara signifikan terhadap motivasi belajar siswa dibanding kelas kontrol maka dilakukan uji hipotesis. Untuk menentukan uji statistik yang tepat dalam pengujian hipotesis terlebih dahulu dilakukan uji normalitas dan uji homogenitas terhadap skor motivasi belajar. Kemudian dilakukan uji hipotesis dengan menggunakan uji stastistik yang sesuai dengan distribusi data yang diperoleh.

Teknik analisis data yang digunakan untuk menguji normalitas adalah uji chi-kuadrat (). Adapun hasil perhitungan uji normalitas untuk skor motivasi belajar untuk kelas eksperimen diperoleh X2hitung=5,44 dan kelas kontrol X2hitung=4,81 dengan X2tabel =7,81 maka dapat disimpulkan data terdistribusi normal.

Berdasarkan data diperoleh harga hitung < tabel pada taraf kepercayaan 95 % atau signifikansi 0,05 untuk data skor motivasi belajar baik kelas eksperimen maupun kelas kontrol, artinya skor motivasi berdistribusi normal.  Selanjutnya dilakukan uji homogenitas antara varians skor motivasi belajar kedua kelas. Hasil perhitungan uji homogenitas diperoleh F hitung 1,186 dan F tabel 1,754. Karena  Fhitung < Ftabel maka dapat disimpulkan variansi skor motivasi kelas eksperimen dan kelas kontrol adalah homogen.

Karena data skor motivasi terdistribusi normal dan bervariansi homogen maka untuk menguji hipotesis dilakukan uji t. Hasil uji hipotesis berdasarkan skor motivasi belajar kelas eksperrimen dan kelas control diperoleh t hitung 2,223 dan t tabel 1,64 maka Ha2 diterima atau H02 di tolak.

Berdasarkan data diperoleh thitung > ttabel pada taraf kepercayaan 95 % (signifikansi 0,05) maka Ha2 diterima, artinya motivasi belajar kelas eksperimen yang menerapkan model pembelajaran berdasarkan masalah (problem based instruction) berbeda secara signifikan dibandingkan motivasi belajar siswa pada kelas kontrol.

Berdasarkan penghitungan skor motivasi belajar untuk kelas eksperimen dan kelas kontrol diperoleh skor rata-rata motivasi kelas eksperimen 163,93 sedanglan kelas kontrol skor rata-rata motivasinya 155,25. Data ini menunjukkan bahwa penerapan model pembelajaran berdasarkan masalah lebih berpengaruh terhadap motivasi belajar siswa di bandingkan penerapan model pembelajaran tradisional. Kemudian dari hasil uji hipotesis diperoleh thitung =2,223 > ttabel=1,754 pada taraf kepercayaan 95 % (signifikansi 0,05) maka Ho2 ditolak dan Ha2 diterima, artinya motivasi belajar siswa pada kelas eksperimen yang menerapan model pembelajaran berdasarkan masalah (problem based instruction) berbeda secara signifikan dibandingkan motivasi belajar siswa pada kelas control yang menerapkan model pembelajaran yang lain.

Adanya perbedaan yang signifikan antara skor motivasi belajar siswa kelas eksperimen dan kelas kontrol dikarenakan perbedaan pengalaman belajar yang dialami siswa baik pada siswa yang diterapkan model pembelajaran berdasarkan masalah pada kelas eksperimen dan diterapkannya model pembelajaran yang lain pada kelas kontrol yang akhirnya berpengaruh terhadap motivasi belajar siswa.

Berdasarkan pengolahan skor rata-rata motivasi belajar untuk setiap indikator motivasi, dapat di katakan bahwa skor setiap indikator mengalami skor yang cukup besar dan semuanya dalam kategori skor motivasi belajar tinggi baik kelas eksperimen mapun kelas kontrol. Dari delapan aspek motivasi belajar yang diteliti, semuanya dikembangkan dengan baik oleh siswa. Angket ini menunjukkan indikator dalam bentuk perilaku yang mengindikasikan ada-tidaknya suatu atribut psikologis (Azwar, 2010:20) dalam hal ini motivasi belajar. Berikut ini akan dibahas untuk setiap indikator motivasi.

 

KESIMPULAN DAN SARAN

KESIMPULAN

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan mengenai pengaruh penerapan model pembelajaran berdasarkan masalah terhadap motivasi belajar dan prestasi belajar siswa pada pokok bahasan rangkaian listrik arus searah, diperoleh kesimpulan:

  1. Peningkatan prestasi belajar siswa dengan penerapan model pembelajaran berdasarkan masalah (Problem based instruction) ditingkat SMA lebih besar dibandingkan dengan penerapan model pembelajaran yang lain. Peningkatan prestasi belajar dengan penerapan model pembelajaran berdasarkan masalah berbeda secara signifikan dengan penerapan model pembelajaran yang lain, yaitu berbeda signifikan pada taraf kepercayaan 95 % (signifikansi 0,05) .
  2. Pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran berdasarkan masalah (problem based instruction) lebih efektif dalam meningkatkan prestasi belajar siswa dibanding penerapan model pembelajaran yang lain.
  3. Penerapan model pembelajaran berdasarkan masalah (Problem based instruction) pada kelas eksperimen berpengaruh secara signifikan terhadap motivasi belajar siswa. Hal ini ditunjukkan dengan perolehan skor motivasi belajar siswa kelas eksperimen sebesar 163,95 dengan kategori tinggi .
  4. Motivasi belajar siswa pada kelas eksperimen yang menerapkan model pembelajaran berdasarkan masalah (Problem based instruction) lebih besar daripada motivasi belajar siswa pada kelas kontrol yang menerapkan model pembelajaran yang lain. Hal ini ditunjukkan dari perbedaan skor rata-rata dan skor setiap indikator motivasi belajar. Skor rata-rata motivasi belajar antara kelas eksperimen dan kelas kontrol berbeda secara signifikan pada taraf kepercayaan 95 % (signifikansi 0,05) .

SARAN

Dari hasil penelitian yang telah dilakukan, dapat di ajukan beberapa saran, antara lain:

  1. Hendaknya dipersiapkan alternatif aktivitas kegiatan siswa ketika selesai penyelidikan untuk kelompok yang lebih awal menyelesaikan penyelidikan agar tidak mengobrol atau membuat gaduh.
  2. Untuk mengetahui motivasi belajar siswa, instrumen tidak hanya angket akan tetapi dapat ditambahkan dengan lembar observasi aktivitas selama kegiatan pembelajaran sehingga benar-benar mengetahui perilaku siswa secara keseluruhan selama pembelajaran.

 

DAFTAR PUSTAKA

Arikunto, S. (2002). Prosedur Penelitian: Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta: Bineka Cipta.

Arikunto, S. (2007). Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara.

Ariyanto, S. (2008). Pengertian Prestasi Belajar. [Online]. Tersedia: http://sobatbaru.blogspot.com/2008/06/pengertian-prestasi-belajar.html.  [15 oktober 2009]

Azwar, S. (2009). Tes Prestasi, Fungsi dan Pengembangan Pengukuran Prestasi Belajar. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Azwar, S. (2010). Penyusunan Skala Psikologi. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Dahar, R.W. (1989). Teori-Teori Belajar. Jakarta: Erlangga.

Departemen Pendidikan Nasional Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah Direktorat Pendidikan Menengah Umum. (2007). Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia No.41 Tahun 2007 Tentang Standar Proses Untuk Satuan Pendidikan Dasar Dan Menengah. Jakarta: Depdiknas.

Depdiknas. (2003). Kurikulum 2004 : standar kompetensi, mata pelajaran Fisika, Sekolah menengah atas dan madrasah aliyah. Jakarta: Depdiknas.

Departemen Pendidikan dan Kebudayaaan. (1999). Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.

Dimyati dan Mudjiono. (2006). Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Rineka Cipta.

Duch, J.B. (1995). Problems: A Key Factor in PBL.  [On Line]. Tersedia: http://www.udel.edu/pbl/cte/spr96-phys.html.  [08 Juni 2010].

Gintings, A. (2008). Esensi Praktis Belajar dan Pembelajaran. Bandung: Humaniora.

Hake, R.R. (1997). “Interactive-Engagement Versus Tradisional Methods : A Six-Thousand-Student Survey of Mechanics Tes Data For Introductory Physics Course”. Am. J. Phys. 66 (1) 64-74

Ibrahim,M. dan Nur,M. (2005). Pengajaran Berdasarkan Masalah. Surabaya: UNESA-University Press.

Koes, S. (2003). Strategi Pembelajaran Fisika. Malang: Jurusan Pendidikan Fisika FMIPA Universitas Negeri Malang.

Lutianasari, L. (2009). Pengaruh Model Pembelajaran PBI Terhadap Kemampuan Analisis Siswa Pada Pokok Bahasan Gerak Melingkar Beraturan. Skripsi pada Jurusan Pendidikan Fisika FPMIPA UPI. Bandung: Tidak diterbitkan.

Makmun,A.S. (2001). Psikologi Kependidikan. Bandung : PT Remaja Rosdakarya

Mujiburahman, A. (2009). Pengaruh Model Pembelajaran Training Inquiry terhadap Peningkatan Hasil Belajar Siswa. Skripsi Pada Jurusan Pendidikan Fisika FPMIPA UPI. Bandung: Tidak diterbitkan.

Munaf, S. (2001). Evaluasi Pendidikan Fisika. Malang: Jurusan Pendidikan Fisika FPMIPA Universitas Pendidikan Indonesia.

Nuh, U. (2007). Implementasi Model Pembelajaran Berbasis Masalah Dalam Upaya Meningkatkan Keterampilan Proses Sains Siswa. Skripsi pada Jurusan Pendidikan Fisika FPMIPA UPI Bandung: tidak diterbitkan.

Nurhasanah, A. (2008). Penerapan Model Pembelajaran Berbasis Masalah (Problem based instruction) Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa SMP Pada Materi Pemuaian. Skripsi pada Jurusan Pendidikan Fisika FPMIPA UPI. Bandung : Tidak diterbitkan.

Ogilvie. (-). Effectiveness of Different Course Components in Driving Gains in Conceptual Understanding. Department of Physics, MIT. Cambridge MA 02139. (1), 1-11

Panggabean, L. (1996). Penelitian Pendidikan. Bandung: Jurusan Pendidikan Fisika FPMIPA IKIP Bandung.

Panggabean, L. (2001). Statistika Dasar. Bandung: Jurusan Pendidikan Fisika FPMIPA UPI Bandung.

Pritchard, et al. (2002). What Course Elements Correlate with Improvement on Tests in Introductory Newtonian Mechanics?. Similar to National Association for Research in Science Teaching – NARST- 2002 Conference New Orleans, April 7-10, 2002. [Online]. Tersedia: http://relate.mit.edu/effectiveness.pdf. [18 Maret 2010]

Purwanto, N. (1990). Psikologi pendidikan. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Sari, I.M. (2006). Implementasi model pembelajaran Problem based instruction Pada pokok bahasan pembiasan cahaya. Skripsi pada Jurusan Pendidikan Fisika FPMIPA UPI. Bandung: Tidak diterbitkan.

Sukmadinata, N.S. (2005). Metode Penelitian Pendidikan. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Surya, M. (2003). Psikologi Pembelajaran dan Pengajaran. Bandung: Yayasan Bhakti Winata.

Trianto. (2007). Model-model Pembelajaran Inovatif Berorientasi Konstruktivistik.   Surabaya: Prestasi Pustaka.

Tsaniyah,E.A. (2008). Implementasi Model Pembelajaran Berdasarkan Masalah (Problem Based Instruction) Pada Materi Pokok Pemantulan Cahaya Untuk Meningkatkan Penguasaan Konsep Siswa SMP. Skripsi pada Jurusan Pendidikan Fisika FPMIPA UPI Bandung: tidak diterbitkan

Uno, H.B. (2008). Teori Motivasi dan Pengukurannya. Gorontalo : Bumi Aksara

Wartono. (2003). Pengembangan Program Pengajaran Fisika. Malang: Jurusan Pendidikan Fisika FPMIPA Universitas Pendidikan Indonesia.

Winkel. (1996). Psikologi Pengajaran. Jakarta: PT Gramedia Widiasarana Indonesia.

Yamin, M. (2007). Strategi Pembelajaran Berbasis Kompetensi. Jakarta: Gaung Persada Press