Beranda Pendidikan Artikel: PENERAPAN MODEL PROBLEM BASED LEARNING (PBL) BERBANTUAN LKPD UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN...

Artikel: PENERAPAN MODEL PROBLEM BASED LEARNING (PBL) BERBANTUAN LKPD UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN LITERASI SAINS SISWA KELAS XII PADA MATERI GELOMBANG ELEKTROMAGNETIK, Oleh : Mumamad Taufiqurrohim Syah, S.Pd

852
0

PENDAHULUAN

Literasi sains merupakan fokus utama dalam pembelajaran abad 21. Sains memiliki tiga komponen yang tidak dapat dipisahkan, yaitu produk, proses ilmiah, dan sikap ilmiah. Oleh sebab itu belajar sains adalah belajar produk, proses, dan sikap. Fokus yang dipentingkan dalam pendidikan sains sekarang adalah literasi sains. Literasi sains merupakan kemampuan siswa menggunakan konsep sains untuk mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari, menjelaskan fenomena ilmiah serta menggambarkan fenomena tersebut berdasarkan bukti-bukti ilmiah. Oleh karena itu pembelajaran fisika yang dilaksanakan dikelas harus dapat melatih dan mengembangkan  kemampuan literasi sains siswa.

Namun, proses pembelajaran fisika yang dilakukan masih berpusat kepada guru sehingga siswa belum terbiasa untuk membaca, menganalisis, memaknai isi bacaan dan sangat tergantung kepada sumber belajar yang disampaikan  serta siswa tidak terbiasa mengkomunikasikan hasil bacaannya kepada orang lain. Menurut hasil wawancara dengan siswa, mereka tidak terbiasa untuk membaca materi secara mandiri yang akan diajarkan dan siswa hanya menunggu penyampaian materi dari guru.

Selain itu, penggunaaan model dan strategi pembelajaran yang kurang tepat juga mempengaruhi keberhasilan pembelajaran fisika. Proses pembelajaran banyak menggunakan metode ceramah dan kurang mengeksplorasi kemampuan literasi sehingga kemampuan literasi sains siswa rendah.

Oleh karena itu untuk menangani dan memecahkan permasalahan ini, diperlukan model pembelajaran yang sesuai di kelas yang mampu mengembangkan dan meningkatkan kemampuan literasi sains siswa, sehingga siswa memperoleh hasil belajar fisika yang baik.

Untuk meningkatkan kemampuan literasi sains siswa digunakan model pembelajaran PBL dengan berbantuan LKPD. Fathiah Alatas, dkk (2020) menyatakan dalam penelitiannya bahwa Model PBL dapat melatih  kemampuan literasi sains siswa melalui kegiatan penyelidikan dan analisis, diantaranya aspek kompetensi dan aspek pengetahuan mengalami peningkatan yang cukup memuaskan.

Adapun  tahapan/sintaks PBL yang akan dikerjakan dalam aktivitas pembelajaran yaitu : (1) orientasi siswa pada masalah, (2)  mengorganisasikan peserta didik untuk belajar, (3) membimbing penyelidikan individu maupun kelompok, (4) mengembangkan dan menyajikan hasil karya, (5) menganalisis dan mengevaluasi proses pemecahan masalah.

Dalam penerapan model pembelajaran ini langkah yang dilakukan diantaranya membuat RPP dengan model pembelajaran PBL, mempelajari bagaimana aktivitas guru dan siswa pada setiap tahapan pembelajaran dan sintaks. Selanjutnya melaksanakan kegiatan pada materi mengikuti langkah-langkah dalam model pembelajaran PBL sebagai berikut :

  1. Kegiatan Pendahuluan (salam pembuka dan doa, melaksanakan presensi, memberikan apersepsi, memberikan motivasi, menyampaikan kompetensi yang harus dikuasai, tujuan pembelajaran, serta menyampaikan penilaian yang dilakukan selama proses pembelajaran
  2. Kegiatan inti
  3. Fase 1 Orientasi siswa pada masalah. Pada tahap ini siswa diminta mengamati masalah pada kehidupan sehari-hari melalui tayangan video
  4. Fase 2 Mengorganisasikan siswa belajar. Pada tahap ini dikelompokan menjadi beberapa kelompok yang beranggotakan 5  orang dan diminta berdiskusi dalam kelompok untuk menyelesaikan masalah di dalam LKPD
  5. Fase 3 Membimbing penyelidikan individu dan kelompok. Pada tahap ini siswa mengumpulkan informasi dari berbagai sumber atau studi literature  dan berdiskusi. Guru membimbing dan mengarahkan siswa agar dapat menyelesaikan LKPD.
  6. Fase 4 Mengembangkan dan menyajikan hasil karya. Pada tahap ini siswa diminta menyiapkan laporan hasil diskusi kelompok, dan kemudian setaip kelompok mempresentasikan hasil LKPD.
  7. Fase 5 Menganalisa dan mengevaluasi proses pemecahan masalah. Pada tahap ini siswa diarahkan untuk menganalisis apa yang sudah dipresentasikan dan didorong untuk memberikan tanggapan. Guru memberikan koreksi dan penguatan terhadap apa yang sudah disampaikan.
  8. Kegiatan Penutup. Kegiatan membuat kesimpulan, evaluasi dengan tes literasi, kegiatan refleksi, menyampaikan rencana pembelajaran berikutnya, salam penutup dan doa.

Penerapan model PBL ini dapat memberikan ruang kepada siswa untuk dapat melatih dan mengembangkan kemampuan literasi sains serta mempermudah siswa untuk mengkonstruksi pengetahuannya sendiri melalui kegiatan menyelesaikan masalah literasi pada pembelajaran fisika. Pembelajaran dengan model PBL ini juga akan membuat pembelajaran fisika menjadi lebih bermakna bagi siswa.

Literasi sains menurut PISA 2006 diartikan sebagai kemampuan menggunakan pengetahuan sains untuk mengidentifikasi permasalahan dan menarik kesimpulan berdasarkan bukti-bukti dalam rangka memahami serta membuat keputusan tentang sains dan perubahan yang dilakukan terhadap sains melalui aktivitas manusia.

Asesmen literasi sains dibangun oleh beberapa aspek yang merupakan hakikat dari sains itu sendiri. Aspek yang diukur dalam asesmen literasi sains mencakup sain the knowledge of science (pengetahuan sains), the Investigative nature of science (penyelidikan tentang hakikat sains), science as a way of thinking (sains sebagai cara berfikir), dan interaction of science, technology, and society (interaksi antara sains, teknologi dan masyarakat).

Berdasarkan kajian literatur maka indikator literasi sains siswa yang akan digunakan  yaitu: (1) menjelaskan fakta-fakta atau konsep-konsep, (2) menjawab pertanyaan terkait dengan pengetahuan atau informasi sains, (3) menggambarkan kegunaan ilmu sains dan teknologi bagi masyarakat, (4) menunjukkan efek negatif dari ilmu sains dan teknologi bagi masyarakat. Instrumen yang digunakan untuk mengetahui kemampuan literasi sains siswa adalah instrumen soal tes literasi.

Kemudian dalam pelaksanakaan kegiatan pembelajaran juga digunakan LKPD bermuatan Sains Teknologi dan masyarakat yang dapat meningkatkan kemampuan literasi sains siswa. Hal ini sesuai dengan hasil penelitian Ayuningtyas, dkk (2020) yang menyatakan bahwa pembelajaran sains teknologi masyarakat  berpengaruh tinggi terhadap peningkatan literasi sains dalam pembelajaran.

Hasil wawancara dengan Ibu Hj. Maryati, M.Pd (Kepala Madrasah) menyatakan bahwa untuk meningkatkan kemampuan literasi harus menggunakan model pembelajaran yang sesuai dan LKPD yang diberi stimulus seperti masalah untuk melatih siswa membaca. Senada dengan itu, Amir Fatah, S.Pd. M.Pd (Guru Fisika) juga menyatakan bahwa salah satu model yang bisa digunakan untuk meningkatkan literasi siswa adalah PBL yang menyajikan suatu masalah dan   LKPD yang dapat mengeksplorasi kemampuan literasi Sains siswa.

Berkaitan dengan masalah dan kajian literatur di atas maka diharapkan model problem based learning (PBL) berbantuan LKPD dapat meningkatkan kemampuan literasi sains siswa kelas XII pada materi gelombang elektromagnetik

HASIL DAN PEMBAHASAN

Keterlaksanaan Model Pembelajaran PBL

Model PBL menjadi salah satu model pembelajaran yang terdiri atas serangkaian langkah pembelajaran.  Karakteristik utama model PBL adalah memberikan permasalahan konstektual dan nyata untuk dipecahkan melalui rangkaian proses ilmiah.  Tahapan-tahapan model PBL yang dilakukan yaitu dimulai dengan orientasi siswa pada masalah, mengorganisasikan siswa dalam kelompok belajar, siswa melakukan kegiatan penyelidikan, mempersentasikannya dan diakhiri dengan penyajian serta analisis dan evaluasi proses pemecahan masalah.

Penerapan pembelajaran fisika dengan menggunakan model PBL dilaksanakan  pada tanggal 4-5 Juli 2023 di MAN 1 Kota Cilegon kelas XII MIPA sebanyak satu kelas. Persiapan yang dilakukan diantaranya adalah membuat perencanaan pembelajaran mulai dari mempersiapkan perangkat pembelajaran, melakukan proses pembelajaran secara efektif dengan menggunakan media, model pembelajaran inovatif dan tepat, serta melakukan evaluasi sehingga kemampuan literasi sains siswa dapat berkembang dan ditingkatkan

Materi pelajaran yang dijadikan topik pembelajaran pada pertemuan ke-1 yaitu mengenai spketrum gelombang sinar gamma, sinar x, dan  sinar UV. Untuk materi pelajaran yang dijadikan topik pembelajaran pada pertemuan ke-2 yaitu mengenai cahaya tampak, inframerah dan gelombang mikro. Keterlaksanaan model PBL dilakukan melalui pengamatan oleh observer. Rekapitulasi keterlaksanaan model pembelajaran oleh guru berdasarkan lembar observasi adalah sebagai berikut pembelajaran ke-1 persentase keterlaksanaan 100 % (sangat baik) dan pembelajaran ke-2 juga 100 % (sangat baik). Untuk observasi yang dilakukan terhadap aktivitas siswa, baik pertemuan ke-1 dan ke-2 keterlaksaan mencapaii 100% dengan kategori sangat baik.  Berdasarkan data yang diperoleh model PBL telah dilaksanakan dengan baik, baik oleh guru maupun oleh siswa.

Hasil Tes Literasi Siswa

Proses pembelajaran dengan menggunakan PBL yang dilaksanakan tergolong efektif dalam mengembangkan dan meningkatkan kemampuan literasi sains siswa. Hal ini terlihat dari hasil penilaian literasi yang telah dilaksanakan.

Penilaian literasi menggunakan soal tes literasi berbentuk PG yang disusun berdasarkan indikator pencapaian kompetensi dan indicator literasi yaitu (1) menjelaskan fakta-fakta atau konsep-konsep, (2) menjawab pertanyaan terkait dengan pengetahuan atau informasi sains, (3) menggambarkan kegunaan ilmu sains dan teknologi bagi masyarakat, (4) menunjukkan efek negatif dari ilmu sains dan teknologi bagi masyarakat. Tes menggunakan google form. Hasil tes literasi pada pertemuan 1 menunjukkan hasil yang baik dengan rata-rata nilai 97,74 dari skala 100. Nilai terendah 66 dan nilai tertinggi 100. Sedangkan hasil tes literasi pada pertemuan 2 menunjukkan hasil yang lebih baik yaitu dengan nilai rata-rata 100.  Dari data yang diperoleh dapat disimpulkan bahwa peenrrapan model PBL dapat meningkatkan kemapua literasi sains siswa.

 Hasil Penilaian Sikap

Penilaian sikap menggunakan lembar observasi untuk indikator (1) jujur, (2) bertanggung jawab dan (3) disiplin yang disertai rubric penilain dan di isi oleh observer. Dari hasil penilaian sikap pada pertemuan 1 rata-rata nilai adalah 97,4 dengan kategori sangat baik. Nilai terendah 83,3 dan nilai tertinggi 100. Sebagian besar siswa memperoleh nilai dengan kategori sangat baik dan hanya satu siswa yang memperoleh kategori baik. Sedangkan pada pertemuan 2 rata-rata menjadi 100. Dari data yang diperoleh dapat diperoleh informasi bahwa terdapat peningkatan sikap siswa dalam proses pembelajaran yang dilaksanakan.

Hasil Penilaian Keterampilan

Penilaian keterampilan menggunakan lembar observasi untuk indikator (1) sistematika presentasi, (2) penggunaan bahasa, (3) kemampuan mempertahankan dan menaggapi pertanyaan. Selai itu juga digunakan indicator (1) keikutsertaan dalam praktikum, (2) penggunaan alat praktikum, (3) hasil praktikum. Dari hasil penilaian keterampilan menunjukkan rata-rata nilai 94,2 dengan kategori sangat baik, nilai terendah 91,6 dan nilai tertinggi 100. Pada pertemuan 2 rata-rata yang diperoleh 100.  Seluruh siswa memperoleh nilai dengan kategori sangat baik.

Respon terkait dengan strategi yang dilakukan

Dari hasil aksi yang dilakukan, maka ada beberapa respon berdasarkan hasil wawancara dan lembar refleksi. 

  1. Respon Kepala Madrasah sangat positif dan memberikan dukungan terhadap penerapan model pembelajaran inovatif seperti PBL dan mengharapkan pembelajaran ini dapat diteruskan bukan hanya pada mata pelajaran fisika namun pada setiap mata pelajaran karena sesuai dengan karakter pembelajaran abad 21.
  2. Respon rekan sejawat sangat positif, mereka tertarik dengan model pembelajaran PBL, LKPD dan pengintegrasian teknologi dalam pembelajaran yang digunakan karena berdampak positif terhadap peningkatan kemampuan literasi sains siswa.
  3. Respon siswa terhadap kegiatan pembelajaran ini adalah mereka sangat senang mengikuti pembelajaran dari awal sampai akhir bisa dilihat dari respon keterlibatan siswa dalam pembelajaran dan hasil kuisioer

KESIMPULAN

  1. Pemilihan model pembelajaran Problem Based Learning dan juga kegiatan yang berpusat pada siswa meningkatkan keaktifan siswa saat proses pembelajaran dilihat dari antusias siswa bertanya dan mengungkapkan pendapat saat kegiatan apersepsi, motivasi, orientasi, diskusi kelompok, menyelesaikan dan mempresentasikan LKPD serta saat menanggapi hasil presentasi temannya dan menjawab umpan balik saat pembelajaran.
  2. Penggunaan Model pembelajaran, sumber belajar dan LKPD efektif dalam memberikan kesempatan kepada siswa dalam melatih, mengembangkan dan meningkatkan kemampuan literasi bisa dilihat dari hasil LKPD yang sudah terselesaikan, kegiatan presentasi yang dilakukan serta hasil evaluasi literasi. Hasil tes literasi menunjukkan kemampuan literasi siswa yang baik hal ini dapat dilihat dari hasil nilai tes literasi pada pertemuan 1 dengan rata-rata nilai 97,74 dari skala 100. Nilai terendah 66 dan nilai tertinggi 100. Sedangkan hasil tes literasi pada pertemuan 2 dengan nilai rata-rata 100.
  3. Penerapan PBL dalam proses pembelajaran juga memberikan kesempatan untuk siswa dapat berkolaboratif menyelesaikan masalah atau kegiatan penyelidikan sehingga siswa aktif dalam pembelajaran. Sikap dan keterampilan siswa juga berkembang dengan baik, hal ini dapat dilihat dari hasil yang diperoleh dalam kategori baik.

 SARAN

Saran yang dapat diberikan diantaranya :

  1. Siswa harus terbiasa untuk membaca buku atau sumber dari berbagai literature secara mandiri dalam pembelajaran fisika.
  2. Guru harus terbiasa dengan penggunaan model pembelajaran inovatif sehingga dapat meningkatkan hasil belajar peserta didik dan mengembangkan kemampuan siswa abad 21.

 DAFTAR PUSTAKA

Alatas, Fathiah, dkk. “Model problem based learning (PBL) untuk meningkatkan kemampuan literasi sains pada konsep pemanasan global”. JIPVA (Jurnal Pendidikan IPA Veteran). 4.2 (2020) : 1-6

Ayuningtyas, Yuvita, dkk. “Pengaruh Model Pembelajaran Sains Teknologi Masyarakat (STM) dalam Meningkatkan Kemampuan
literasi Sains Siswa di MTsN 1 Konsel”. Kulljdawa. 1.1 (2020). 1-6

Juhji. “Model Pembelajaran Sains Teknologi Masyarakat dalam Pembelajaran IPA”. Primary. 08.1 (2016) : 1-10

Rusilawati, Ani. “ Asesmen Literasi Sains : Analisis Karakteristik Instrumen Kemampuan Siswa Menggunakan Teori Tes Modern Rasch Model”. Pekanbaru : 29 September 2018. Hal 1-14

Winata, Anggun, dkk. Analisis Kemampuan Awal Literasi Sains Mahasiswa Pada Konsep IPA”. Education and Human Development Journal. 1.1 (2016) : 1-6