CCN, Cilegon, Menjelang hari-hari mendekati Hari Raya Idul Adha, umat Muslim dengan penuh antusias menanti akan momen bersejarah yang penuh kegembiraan. Hal ini dikenal sebagai Hari Raya Qurban, Idul Adha yang memiliki makna spiritual dan budaya yang besar bagi umat Muslim di seluruh dunia. Perayaan ini memperingati keteguhan hati Nabi Ibrahim dalam patuh kepada perintah Allah dan kesediaannya untuk mengorbankan putranya sebagai tanda kesalehan. (24/06/2023)
Ketika nanti menjelang Idul Adha merupakan waktu yang penuh dengan antisipasi dan persiapan. Keluarga sibuk membersihkan rumah dengan teliti dan menghiasnya dengan dekorasi indah. Berbelanja pakaian baru dan hadiah untuk orang-orang tercinta menambah semarak suasana. Masjid-masjid menjadi pusat kegiatan yang penuh warna ketika jamaah berkumpul untuk melaksanakan salat khusus dan berpartisipasi dalam amal kebaikan.
Salah satu elemen simbolis yang sangat penting dalam Hari Raya Idul Adha adalah kurban hewan, biasanya kambing, domba, atau sapi. Tindakan ini mengingatkan kita akan keteguhan hati Nabi Ibrahim dan menunjukkan pentingnya sifat rela berkorban, rasa syukur, dan belas kasihan. Daging dari hewan yang dikurbankan dibagi menjadi tiga bagian, satu bagian diberikan kepada yang kurang mampu, bagian lainnya dibagikan kepada kerabat dan teman, dan bagian terakhir dinikmati oleh keluarga.
H. Aan Abdurahman, Tokoh Mayarakat kec. Jombang kota Cilegon menyampaikan bahwa semangat kemurahan hati dan persatuan sangat terasa saat Hari Raya Idul Adha tiba. Umat Muslim didorong untuk memberikan bantuan kepada mereka yang membutuhkan, memastikan bahwa semua orang dapat berpartisipasi dalam perayaan ini. Donasi diberikan kepada organisasi amal, dan tindakan kebaikan dan kebaikan terhadap sesama menjadi prioritas utama.
“Di balik ritual dan perayaan, Hari Raya Idul Adha memiliki makna spiritual yang mendalam. Ini adalah waktu untuk introspeksi, rasa syukur, dan memperkuat iman. Umat Muslim merenungkan pelajaran dari keteguhan hati Nabi Ibrahim dan pentingnya pengorbanan dalam kehidupan mereka sendiri. Mereka mencari pengampunan, berdamai dengan sesama, dan berusaha untuk memperbaiki diri, dengan tujuan mewujudkan nilai-nilai kasih sayang, kerendahan hati, dan kesalehan,” tuturnya.





