Beranda Pendidikan Ngerakse Lan Ngerupiye Base Jawe Cilegon, Sebuah Apresiasi Bahasa dan Sastra Daerah...

Ngerakse Lan Ngerupiye Base Jawe Cilegon, Sebuah Apresiasi Bahasa dan Sastra Daerah Melalui Nalek Cerita Bebasan

2435
0

CCN. Kamis, 15 Desember 2022. Bahasa daerah adalah bahasa yang digunakan secara turun temurun oleh warga Negara Indonesia di daerah di wilayah Negara kesatuan republik Indonesia. Bahasa daerah merupakan lambang kebanggan daerah dan juga sebagai identitas daerah itu sendiri. Bahasa daerah merupakan warisan dari nenek moyang dan termasuk kedalam kekayaan budaya nasional. Menurut informasi yang berkembang bahwa banyak dari bahasa daerah yang ada di Negara Indonesia mengalami kepunahan. Setidaknya ada 11 (sebelas) bahasa daerah yang menurut catatan badan pengembangan dan pembinaan bahasa kemendikbud telah mengalami kepunahan.

Ka. Seksi bahasa sastra pengendalian perijinan H. Dodi Dedi Ismanto, menjelaskan kegiatan ini sebagai bentuk pelestarian dari bahasa sebagai identitas daerah, dengan tema Ngerakse Lan Ngerupiye Base Jawe Cilegon. Bahasa daerah digunakan secara turun temurun oleh warga negara Indonesia, dimana bahasa jawe cilegon ini digunakan setiap hari dilingkungan keluarga, sekolah maupun masyarakat.

“Kegiatan ini sesuai dengan Perwal Kamis Bebasan dan juga pelestarian muatan lokal di kota Cilegon, apalagi banyak bahasa daerah di Indonesia yang dikategorikan punah atau hampir punah diarus globalisasi yang penuh tantangan. Maka untuk mengantisipasi hal tersebut pemerintah kota Cilegon dalam hal ini Dinas Pendidikan Kebudayaan kota cilegon melakukan sebuah inisiatif kebijakan yang sangat bagus yaitu memasukan bahasa daerah dalam kurikulum muatan lokal pendidikan dari mulai jenjang PAUD sampai dengan SMP,” tuturnya.

Lomba bercerita bahasa nalek ini bertujuan : untuk melestarikan bahasa daerah agar tetap ada dilingkungan masyarakat dan terpelihara dengan baik serta mengenalkan kepada para peserta didik sejak usia dini sehingga mereka mampu mengenal menggunakan dan ikut serta melestarikannya.

Maksud diselenggarakannya lomba bercerita bahasa ini, yaitu: Penyelenggaraan lomba bercerita bahasa Jawa Cilegon sebagai upaya untuk melestarikan bahasa daerah; Memberikan apresiasi, ruang dan tempat untuk para peserta didik dalam rangka mengembangkan dan mengekspresikan bahasa daerah; Memberikan kesempatan kepada para peserta didik jenjang smp untuk menggali potensi akademik maupun non akademik yang dimilikinya dalam rangka melestarikan bahasa daerah.

Sekretaris Dindikbud Kota Cilegon, Suhendi, ketika disambutannya menyampaikan bahwa di Cilegon sudah ada Perwal tentang muatan lokal yang sudah berjalan, yang sudah tersampaikan dibeberapa jenjang di Cilegon dari tahun lalu serta beberapa guru yang mengajarkan Bahasa Jawa Cilegon ini merupakan asli penutur Cilegon dan telah membuat bahan ajar yang baik.

“Semoga dengan adanya Mulok Bahasa Jawa Cilegon, pelestarian Bahasa daerah dapat terjaga. Apalagi dengan adanya lomba ini dapat dijadikan motivasi, karena yang disampaikan berbahasa jawa Cilegon dan tidak terjadi kepunahan. Dan diharapkan Bapak-Ibu guru yang mengajar dapat menjaga serta melestarikan bersama, “tutupnya.

Lomba bercerita bahasa nalek merupakan suatu kegiatan perlombaan menyampaikan cerita dengan menggunakan bahasa Jawa Cilegon. Bercerita adalah menuturkan sesuatu yang mengisahkan tentang perbuatan atau suatu kejadian dan disampaikan secara lisan dengan tujuan membagikan pengalaman dan pengetahuan kepada orang lain dengan menggunakan bahasa nalek cilegon. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa mendongeng adalah suatu keterampilan berbahasa lisan yang bersifat produktif. Mendongeng merupakan bagian dari keterampilan berbicara yang bukan hanya sekadar keterampilan berkomunikasi, tetapi juga sebagai seni.

Para peserta dari beberapa SMP ini membawa variatif cerita yang berbeda secara maksimal seperti cerita Geger Cilegon, KH. Latif Cibeber, asal usul Cilegon, dan lain sebagainya. Dengan Dewan juri yang sudah terpercaya dan terukur yaitu; M. Rois, Ka Ihan dan Ahdi Z. Amri.

M. Rois Rinaldi salah satu juri di kegiatan ini merupakan salah satu sastrawan yang tinggal Cilegon dan salah satu penyusun buku nalek Base Jawe Cilegon menuturkan bahwa ngerakse lan ngerupiye base jawa cilegon tujuannya adalah agar peserta mampu menuturkan kembali kisah perkampungan yang berkembang di kota Cilegon dari aspek budaya, bahasa dan sejarah dalam bentuk bercerita.

“Bahasa daerah tidak saja tentang primordialisme. Di Indonesia bahasa daerah adalah bahasa Ibu. Bahasa yang memberi ruang yang lebih akrab pada anak manusia untuk mengenali diri, keluarga, dan lingkungan secara intens. Pengupayaan pemeliharaan, pengenalan, pemasyarakatan bahasa Jawa Cilegon terus menerus oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Cilegon, termasuk lomba bercerita ini sudah berada di jalan yang benar,” tuturnya. (Azri)