Kita tinggal di kota,
Wilayah yang belajar mengeras
namun sering lupa caranya menampung.
Setiap hujan turun,
ada bunyi lama yang terbangun di dada—
bukan gemuruh langit lagi,
melainkan langkah air
yang kita kenal betul arahnya.
Di Cibeber,
air datang pelan-pelan
seperti tamu yang dulu pernah diusir.
Ia menyusuri selokan dan sungai yang tersedak,
menyentuh aspal,
lalu naik ke beranda rumah
tanpa marah,
tanpa tergesa,
seolah berkata:
Kami hanya ingin pulang.
Di Ciwandan,
rumah-rumah berdiri rapat
seperti takut kehilangan tempat berpijak.
Sungai kecil mengecilkan suaranya,
tak lagi sanggup menampung cerita hujan
yang jatuh berjam-jam dari langit.
Air lalu memilih jalan sunyi:
gang sempit,
ruang tamu,
dan jalan raya yang kedinginan.
Di Jombang,
drainase berdoa dalam diam.
Ia menahan kiriman dari hulu
dengan tubuh yang kian renta,
sementara tanah resapan
hanya tinggal kenangan
dalam peta dan rapat-rapat panjang.
Kita mendengar kalimat itu lagi:
“Kalau hujan begini, warga siap-siap aja.”
Kalimat pendek,
namun berat oleh pasrah.
Seperti doa yang diucapkan
tanpa benar-benar berharap.
Orang-orang tua kami dulu berkata,
air tidak pernah salah jalan.
Mereka menanam jarak
antara rumah dan sungai,
membiarkan rawa bernapas,
menyisakan ruang bagi yang mengalir.
Bagi mereka,
air adalah saudara tua—
harus dihormati,
bukan disingkirkan.
Kini,
kita menutup pintu-pintu air
dengan tembok dan lupa.
Kita jadikan sungai
tempat membuang sisa,
lalu heran
mengapa ia kembali
membawa ingatan yang kotor.
“Banyu mili mah boten salah dalan,”
bisik tanah yang basah.
Yang salah adalah tangan-tangan
yang menghalangi,
yang menyempitkan,
yang lupa mendengar
bahasa alam.
Kita melihat alat bekerja,
parit digali,
tanah dikeruk.
Usaha itu nyata.
Namun air tahu,
betul-betul tahu,
apakah ia sedang dipahami
atau hanya disuruh diam.
Relokasi sering terdengar seperti kehilangan.
Padahal mungkin ia adalah
cara lain untuk bertahan hidup.
Rumah memang menyimpan kenangan,
tetapi kehidupan
menyimpan masa depan.
Keduanya tak seharusnya dipertentangkan.
Di kampung-kampung,
gotong royong masih hidup
seperti lampu kecil saat hujan deras.
Orang-orang membersihkan saluran,
berjaga di malam basah,
saling mengetuk pintu
saat air mulai naik.
Di situlah kita percaya,
kota ini belum sepenuhnya lupa
cara merawat dirinya.
Warga Air yang Kembali tuk pergi tiap musim
seperti surat yang tak pernah kita balas.
Ia mengingatkan:
tanah punya batas,
air punya ingatan,
dan kota punya tanggung jawab.
Kita tinggal di Cilegon.
Kita tidak membenci hujan.
Kita hanya berharap,
suatu hari nanti,
air kembali menjadi kabar baik—
datang sebagai berkah,
pergi sebagai pelajaran,
dan tinggal sebagai bagian
dari hidup kita tuk kembali.
Cilegon, 03 -01-2025





