Beranda Budaya Kita dan Warga Air yang Kembali,  Karya ; H. Ahdi Z....

Kita dan Warga Air yang Kembali,  Karya ; H. Ahdi Z. Amri

268
0

Kita tinggal di kota,

Wilayah yang belajar mengeras

namun sering lupa caranya menampung.

Setiap hujan turun,

ada bunyi lama yang terbangun di dada—

bukan gemuruh langit lagi,

melainkan langkah air

yang kita kenal betul arahnya.

 

Di Cibeber,

air datang pelan-pelan

seperti tamu yang dulu pernah diusir.

Ia menyusuri selokan dan sungai yang tersedak,

menyentuh aspal,

lalu naik ke beranda rumah

tanpa marah,

tanpa tergesa,

seolah berkata:

Kami hanya ingin pulang.

 

Di Ciwandan,

rumah-rumah berdiri rapat

seperti takut kehilangan tempat berpijak.

Sungai kecil mengecilkan suaranya,

tak lagi sanggup menampung cerita hujan

yang jatuh berjam-jam dari langit.

Air lalu memilih jalan sunyi:

gang sempit,

ruang tamu,

dan jalan raya yang kedinginan.

 

Di Jombang,

drainase berdoa dalam diam.

Ia menahan kiriman dari hulu

dengan tubuh yang kian renta,

sementara tanah resapan

hanya tinggal kenangan

dalam peta dan rapat-rapat panjang.

 

Kita mendengar kalimat itu lagi:

“Kalau hujan begini, warga siap-siap aja.”

Kalimat pendek,

namun berat oleh pasrah.

Seperti doa yang diucapkan

tanpa benar-benar berharap.

 

Orang-orang tua kami dulu berkata,

air tidak pernah salah jalan.

Mereka menanam jarak

antara rumah dan sungai,

membiarkan rawa bernapas,

menyisakan ruang bagi yang mengalir.

Bagi mereka,

air adalah saudara tua—

harus dihormati,

bukan disingkirkan.

 

Kini,

kita menutup pintu-pintu air

dengan tembok dan lupa.

Kita jadikan sungai

tempat membuang sisa,

lalu heran

mengapa ia kembali

membawa ingatan yang kotor.

 

“Banyu mili mah boten salah dalan,”

bisik tanah yang basah.

Yang salah adalah tangan-tangan

yang menghalangi,

yang menyempitkan,

yang lupa mendengar

bahasa alam.

 

Kita melihat alat bekerja,

parit digali,

tanah dikeruk.

Usaha itu nyata.

Namun air tahu,

betul-betul tahu,

apakah ia sedang dipahami

atau hanya disuruh diam.

 

Relokasi sering terdengar seperti kehilangan.

Padahal mungkin ia adalah

cara lain untuk bertahan hidup.

Rumah memang menyimpan kenangan,

tetapi kehidupan

menyimpan masa depan.

Keduanya tak seharusnya dipertentangkan.

 

Di kampung-kampung,

gotong royong masih hidup

seperti lampu kecil saat hujan deras.

Orang-orang membersihkan saluran,

berjaga di malam basah,

saling mengetuk pintu

saat air mulai naik.

Di situlah kita percaya,

kota ini belum sepenuhnya lupa

cara merawat dirinya.

 

Warga Air yang Kembali tuk pergi tiap musim

seperti surat yang tak pernah kita balas.

Ia mengingatkan:

tanah punya batas,

air punya ingatan,

dan kota punya tanggung jawab.

 

Kita tinggal di Cilegon.

Kita tidak membenci hujan.

Kita hanya berharap,

suatu hari nanti,

air kembali menjadi kabar baik—

datang sebagai berkah,

pergi sebagai pelajaran,

dan tinggal sebagai bagian

dari hidup kita tuk kembali.

 

Cilegon, 03 -01-2025