CCN, CILEGON — Sastra kembali menjadi medium pengingat sejarah dan identitas lokal di Kota Baja. Sanggar Belajar Al Bantani tampil memukau melalui rampak puisi bertajuk “Ci dan Legon”, karya Ahdi Zukhruf Amri, dalam gelaran CJ Sipeung Akhir Tahun 2025 yang berlangsung di Alun-alun Kota Cilegon, Selasa malam (31/12/2025).
Penampilan rampak puisi ini menghadirkan pembacaan kolektif yang sarat makna sejarah, kebudayaan, dan refleksi perjalanan panjang Cilegon—dari tanah rawa hingga menjelma sebagai kota industri yang tetap berakar pada identitas leluhurnya. Puisi dibawakan oleh para pembaca cilik dan remaja, yakni Sharinah Ilona Arasuli, Cikal Galang Nusa, Beby, dan Khayyirah, yang tampil percaya diri dengan pendampingan langsung dari orang tua mereka.
Karya Ci dan Legon secara puitik merangkum sejarah Banten dan Cilegon melalui diksi-diksi lokal, bahasa Jawa Banten, serta simbol-simbol kebudayaan seperti bata dan kawis—penanda peradaban dan pembangunan yang berpijak pada nilai spiritual dan kerja tangan leluhur. Puisi ini juga menghidupkan kembali narasi kejayaan Banten, figur Sultan Ageng Tirtayasa, hingga peristiwa-peristiwa penting seperti kebencanaan, Geger Cilegon, dan transformasi wilayah dari distrik hingga menjadi kota otonom pada 1999.
Melalui bait-bait seperti “Cilegon, banyu lan cekungan, Cilegon kampung rawe dados kutha”, puisi ini menegaskan identitas Cilegon sebagai ruang hidup yang dibentuk oleh air, tanah, sejarah, dan perjuangan kolektif warganya. Tidak hanya merekam masa lalu, Ci dan Legon juga menjadi refleksi masa kini serta ajakan untuk merawat ingatan sejarah di tengah laju modernisasi.
Pendiri AJB Foundation, Sanggar Belajar Al Bantani sekaligus penulis puisi, Ahdi Zukhruf Amri, menyampaikan bahwa rampak puisi ini sengaja melibatkan anak-anak sebagai bentuk pewarisan nilai budaya sejak dini. Menurutnya, sastra bukan hanya milik akademisi, tetapi harus menjadi bahasa bersama masyarakat lintas generasi.
“Puisi ini adalah ikhtiar merawat ingatan kolektif. Anak-anak perlu dikenalkan pada sejarah kotanya sendiri, pada bahasa, pada simbol-simbol budaya yang membentuk jati diri Cilegon,” ungkapnya.
Penampilan rampak puisi Ci dan Legon mendapat apresiasi dari pengunjung CJ Sipeung. Di tengah hiruk-pikuk perayaan akhir tahun, pembacaan puisi ini menghadirkan ruang kontemplatif—mengajak publik berhenti sejenak, mendengar, dan mengingat akar sejarah kota yang mereka tempati.
Melalui penampilan tersebut, Sanggar Belajar Al Bantani kembali menegaskan perannya sebagai ruang literasi dan kebudayaan yang konsisten menghidupkan sastra, sejarah, dan bahasa lokal dalam ruang-ruang publik Kota Cilegon. Rampak puisi Ci dan Legon bukan sekadar pertunjukan, melainkan pernyataan bahwa sastra adalah cara lain merawat kota dan ingatannya. (***)





