Beranda Banten Sambut HUT ke-27, Gema Tutur Cilegon Akan Hidupkan Sejarah Lewat Trilogi Literasi...

Sambut HUT ke-27, Gema Tutur Cilegon Akan Hidupkan Sejarah Lewat Trilogi Literasi dan Festival Kabaret

837
0

CCN, CILEGON – Menjelang peringatan Hari Jadi Kota Cilegon ke-27, sebuah gerakan literasi dan seni pertunjukan berskala besar mulai dipersiapkan. Gerakan bertajuk “Cilegon Bertutur” ini diinisiasi oleh budayawan H. Ahdi Zukhruf Amri bersama Dewan Kebudayaan Kota Cilegon dan tim Sanggar Belajar al Bantani. (26/02/2026)

Program ini dirancang untuk mengembalikan ingatan kolektif warga Cilegon terhadap sejarah dan asal-usul tanah kelahirannya melalui integrasi literasi dan festival budaya.

Dalam pertemuan terbaru di Sekretariat Yayasan Pintu Mengetuk Langit, tim menunjukkan beberapa draft prototipe buku yang menjadi pilar utama proyek ini:

1.Babad Cilegon: Dokumentasi kronik sejarah peristiwa besar yang membentuk Cilegon yang bertekstual bahasa daerah Jawa banten dialek Cilegon

2 Toponimi Cilegon: Penelusuran mendalam terhadap filosofi nama-nama kampung dan wilayah serta Sejarah yang ada di Cilegon.

3. Cilegon Folktales: Kumpulan tradisi lisan dan legenda rakyat yang selama ini hanya beredar dari mulut ke mulut dengan kemasan berbahasa asiing.

Inisiatif ini mendapatkan apresiasi tinggi dari Abi Aden, selaku Penasehat Dewan Kebudayaan Kota Cilegon. Beliau menegaskan bahwa Cilegon membutuhkan sentuhan literasi yang kuat agar identitas kota tidak tergerus oleh masifnya arus industrialisasi. “Langkah DKKC dan tim adalah bentuk nyata dari bela budaya. Cilegon membutuhkan dokumentasi seperti Babad dan Toponimi ini agar anak cucu kita tidak menjadi asing di tanahnya sendiri,” tegas Abi Aden.

Dalam diskusi intensif yang dilakukan oleh tim menghasilkan kesepakatan untuk menyelenggarakan Festival Tutur Cerita Rakyat sebagai ajang selebrasi budaya. Festival ini tidak hanya menampilkan seni pertunjukan konvensional, tetapi juga diperkuat dengan Lomba Konten Digital yang menyasar kreativitas Generasi Z di media sosial serta Kompetisi Kabaret yang mengangkat naskah dari hasil riset trilogi literasi tersebut.

Puncak dari rangkaian program ini direncanakan digelar tepat pada perayaan Hari Jadi Kota Cilegon. Acara ini akan memanfaatkan ruang publik di Alun-Alun Kota Cilegon sebagai panggung utama ekspresi seni kabaret yang diadaptasi dari isi buku-buku tersebut.

“Kami ingin Hari Jadi Kota Cilegon ke-27 nanti tidak hanya sekadar seremonial, tetapi menjadi momentum kembalinya tutur-tutur luhur di tengah masyarakat,” ujar H. Ahdi Zukhruf Amri. Beliau juga menambahkan bahwa integrasi lomba konten digital dan kabaret bertujuan agar sejarah lokal bisa merambah ke genggaman pemuda melalui platform modern.

Program yang diharapkan ini mampu menciptakan ekosistem pemajuan kebudayaan yang berkelanjutan, di mana riset sejarah bertransformasi menjadi karya seni pertunjukan dan konten edukasi masa kini.(*)