Beranda Sastra PANCA PUISI, Goresan Karya: Kisah Cahya Qolbu

PANCA PUISI, Goresan Karya: Kisah Cahya Qolbu

892
0

KATA-KATA MEREKA

Di keheningan terdengar tawa bak nyanyian pilu menyayat jiwa

Ditelannya butiran-butiran pahit dari setiap nyawa

Tak pikirkan esok ‘kan bagaimana

Jadilah seperti pohon yang tak bisa mendengar apa-apa

 

Bersembunyi di balik sutra

Tuk tutupi jiwa mereka yang bagai duri mawar merah

Berusaha sakiti yang lengah agar mereka tumbuh mekar merekah

 

Lagi-lagi tawa mereka adalah dusta

Yang mencabik-cabik laksana anjing liar menggong-gong siang buta

Bermuka dua tuk jatuhkan mangsanya

Tersenyum lebar di akhir kemenangannya

 

JALANKU

Tak tahu di mana kan berlabuh

Cukup ikuti jalan Sang Penentu

Jika suryaku telah memberi restu

Buat apa lagi ku menunggu

 

Perjalanan ini sebagai awal

Karena hidup takkan berakhir kecuali kematian

Bukan tak menerima takdir

Hanya mengurangi cobaan

 

Oh tidak, ku tak takut berakhir sedih

Karena setiap orang punya kisahnya sendiri

bagiku semua cerita itu bahagia

Tergantung sudut pandang yang berbeda

 

KEHIDUPAN

Tetesan daun itu membasahi bumi

Menyeruak hawa sejuk tak tentu arah

Alunannya menenangkan

Berulang setiap harinya

 

Berputar bukan tuk mengulang, tapi memperbaiki kesalahan

Gumpalannya menggambarkan

Hitam, gelap, dan amarah pada siapapun yang berpijak dan merusak

 

Panas sebagai hukuman

Dingin sebagai cobaan

Suara itu adalah peringatan

Ketika Matahari terbenam bukan lagi tanda hari berganti malam

Tapi penutup untuk memulai kehidupan baru yang tak pernah dirasakan

 

SOSOK PANUTAN

Tak pernah ada kata malu dalam dirinya

Tak pernah luapkan emosi atau lelahnya

Dia yang mengalir di dalam keringatnya tangis dan keluh kesahnya

 

Di terik ini ia memikul beban

Membawa sebongkah kayu di pundaknya

Mencari penghidupan ke depan

 

Semangatnya menyadarkan

Kita butuh usaha sebagai modal

Biarkan yang di atas merendahkan

Hasil kan beri jawaban

 

Ini bukan tentang ia yang kulitnya sudah kusam

Bukan juga usianya yang berkurang

Tapi jasa yang t’lah diukirkan

Untuk keluarga yang ia sayang

 

Perginya diiringi luka

Sang pujaan belum menerima

Buah hati yang penuh sesal, marah, dan salah

 

Tak mengapa ia dikucilkan

Berselimut, tertutup, dan terjaga

Ia mencari kedamaian

Sudah pergi dengan senyuman

 

PARODI NYATA

Kala hati sepi dan gelisah

Sepenggal nama-Mu ku sebut dalam doa

Mengiringi kepedihan yang melanda

Saat dunia menghempas jauh namaku dalam ceritanya

 

Haruskah aku pergi kala dunia tak membawaku menjadi peran di dalamnya?

Tapi memikirkannya berhasil memporak-porandakan hati

Bahkan dunia enggan membuatku bergelut dalam kesusahan parodi nyata

 

Haruskah aku sedih karena doaku tak didengar untuk berperan di dalamnya?

Atau bahagia karena disediakan takdir yang ada

Walau aku tak meminta?

 

Tangisku mereda saat melihat kehancuran dunia Dan aku tidak terlibat sebagai lakonnya

Tapi dilema itu datang saat hati tak bisa memungkiri

Bahwa dunia punya senyum indahnya

Satu yang kusadari bahwa dunia bisa berkhianat

Tapi akhirat sarat akan kebahagiaan tanpa syarat.