KATA-KATA MEREKA
Di keheningan terdengar tawa bak nyanyian pilu menyayat jiwa
Ditelannya butiran-butiran pahit dari setiap nyawa
Tak pikirkan esok ‘kan bagaimana
Jadilah seperti pohon yang tak bisa mendengar apa-apa
Bersembunyi di balik sutra
Tuk tutupi jiwa mereka yang bagai duri mawar merah
Berusaha sakiti yang lengah agar mereka tumbuh mekar merekah
Lagi-lagi tawa mereka adalah dusta
Yang mencabik-cabik laksana anjing liar menggong-gong siang buta
Bermuka dua tuk jatuhkan mangsanya
Tersenyum lebar di akhir kemenangannya
JALANKU
Tak tahu di mana kan berlabuh
Cukup ikuti jalan Sang Penentu
Jika suryaku telah memberi restu
Buat apa lagi ku menunggu
Perjalanan ini sebagai awal
Karena hidup takkan berakhir kecuali kematian
Bukan tak menerima takdir
Hanya mengurangi cobaan
Oh tidak, ku tak takut berakhir sedih
Karena setiap orang punya kisahnya sendiri
bagiku semua cerita itu bahagia
Tergantung sudut pandang yang berbeda
KEHIDUPAN
Tetesan daun itu membasahi bumi
Menyeruak hawa sejuk tak tentu arah
Alunannya menenangkan
Berulang setiap harinya
Berputar bukan tuk mengulang, tapi memperbaiki kesalahan
Gumpalannya menggambarkan
Hitam, gelap, dan amarah pada siapapun yang berpijak dan merusak
Panas sebagai hukuman
Dingin sebagai cobaan
Suara itu adalah peringatan
Ketika Matahari terbenam bukan lagi tanda hari berganti malam
Tapi penutup untuk memulai kehidupan baru yang tak pernah dirasakan
SOSOK PANUTAN
Tak pernah ada kata malu dalam dirinya
Tak pernah luapkan emosi atau lelahnya
Dia yang mengalir di dalam keringatnya tangis dan keluh kesahnya
Di terik ini ia memikul beban
Membawa sebongkah kayu di pundaknya
Mencari penghidupan ke depan
Semangatnya menyadarkan
Kita butuh usaha sebagai modal
Biarkan yang di atas merendahkan
Hasil kan beri jawaban
Ini bukan tentang ia yang kulitnya sudah kusam
Bukan juga usianya yang berkurang
Tapi jasa yang t’lah diukirkan
Untuk keluarga yang ia sayang
Perginya diiringi luka
Sang pujaan belum menerima
Buah hati yang penuh sesal, marah, dan salah
Tak mengapa ia dikucilkan
Berselimut, tertutup, dan terjaga
Ia mencari kedamaian
Sudah pergi dengan senyuman
PARODI NYATA
Kala hati sepi dan gelisah
Sepenggal nama-Mu ku sebut dalam doa
Mengiringi kepedihan yang melanda
Saat dunia menghempas jauh namaku dalam ceritanya
Haruskah aku pergi kala dunia tak membawaku menjadi peran di dalamnya?
Tapi memikirkannya berhasil memporak-porandakan hati
Bahkan dunia enggan membuatku bergelut dalam kesusahan parodi nyata
Haruskah aku sedih karena doaku tak didengar untuk berperan di dalamnya?
Atau bahagia karena disediakan takdir yang ada
Walau aku tak meminta?
Tangisku mereda saat melihat kehancuran dunia Dan aku tidak terlibat sebagai lakonnya
Tapi dilema itu datang saat hati tak bisa memungkiri
Bahwa dunia punya senyum indahnya
Satu yang kusadari bahwa dunia bisa berkhianat
Tapi akhirat sarat akan kebahagiaan tanpa syarat.





