CCN, CIILEGON – Thousands of residents filled the Alun-Alun (City Square) of Cilegon on Wednesday evening, July 9, 2025, to take part in the Istigasah Muharram 1447 H, held in conjunction with the Haul of the Martyrs of the...
CCN, CILEGON – The youth organization Gen Cilegon officially opened its 1st Annual Membership Conference (KANCIL) on Wednesday, July 9, 2025, at the PGRI Hall of the Cilegon City Department of Education and Culture.This event marks a pivotal moment...
Kau tak perlu berkata apa-apa,aku sudah membaca gerimis di matamu,yang lahir dari senyap Tegal Wangidan tumbuh di sumber telaga—di mana angin pun enggan membangunkan pagi. Langkahmu tak pernah terburu-buru,kau seolah tahu,bahwa dunia inilebih butuh pelan daripada cepat.Seperti tatapanmu yang menatap,pada...
CCN, Cilegon, Indonesia — A significant milestone for cultural development in the City of Cilegon took place on the evening of Friday, June 27, 2025, as the Chairman and Board Members of the Cilegon City Cultural Council (DKKC) were...
Aku datang tuk pulangbukan sebagai siapa-siapa,hanya seorang hambayang menjemput rindudari ujung barat pulau jawa. Di bawah langit Madinah,langit yang dahulu menyambut hijrah sang Nabi,aku menunduk,membiarkan debu menyentuh dahiku,agar sujudku menyatu dengan tanahyang pernah dilalui kaki manusia termulia. Aku mendengarsuara tak terdengar...
Di seberang sunyi Arafahseorang anak lelaki berdiri,bukan ulama, bukan jemaah istimewa,hanya satu dari ribuan,tapi pundaknya lebih beratdari segunung dosa. Ia datang bukan untuk namanya,tapi untuk nama ibunya,yang rebah di kursi roda tuadengan wajah rentadan mata yang menyimpan hujan doa. “Bu, ini...
Di tanah yang dikelilingi padang tandus,lahirlah seorang anak dari Bani Hasyim,Muhammad—yang yatim sejak dalam buaian,namun ditakdirkan menuntun semesta menuju Nur. Ia tumbuh dalam kesunyian Mekkah,dengan kejujuran yang mengalahkan zaman,hingga disebut Al-Amîn—yang terpercaya—oleh kawan dan lawan. Di malam sunyi, ia mendaki Jabal...
Titik pertama, ArafahDi antara debu dan doaDi antara sela tanah lengang,kutulis ulang namaku yang nyaris hilang—anak dari dua tangan yang dulumengusap luka tanpa suara. Angin menggiring tangis sunyi,aku tunduk...mencari wajah ibudalam lipatan ihram yang menyapu tanah,mencari tapak ayahdi gurun usia...
Di antara Shafa dan Marwah,aku berjalan—bukan hanya dengan kaki,tapi dengan keyakinan…yang kadang rapuh,kadang teguh… Aku bukan hanya tubuh yang lelah,aku adalah jejakyang mencoba memahami harapdari langkah seorang Ibu. Hajar…Engkau bukan hanya nama dalam sejarah.Engkau adalah puisi,yang hidup dalam tujuh lintasan air...
Aku datang bukan sebagai hamba yang suci,melainkan serpih-serpih dosayang tak tahu lagi cara mencintai Tuhanselain berjalan mengitari harapyang terselip di antara sudut Ka'bah. Kakiku gemetar.Lidahku kelu.Tubuhku menyatu dalam arus tubuh-tubuh yang sama sunyinya.Kami berjalan—bukan karena tahu,tetapi karena rindu. Di setiap putaran,kulihat...











