Beranda Keagamaan Umat Islam Memperingati Isra Mikraj Nabi Muhammad SAW, Menag Nasaruddin Umar Serukan...

Umat Islam Memperingati Isra Mikraj Nabi Muhammad SAW, Menag Nasaruddin Umar Serukan Pentingnya Salat sebagai Pondasi Spiritualitas Bangsa

983
0

CCN, Jakarta, 27 Rajab 1446 H/2025 M— Pada peringatan Isra Mikraj Nabi Muhammad SAW tahun ini, Menteri Agama Republik Indonesia, Nasaruddin Umar, mengingatkan umat Islam untuk menegakkan salat sebagai salah satu pesan terpenting dari peristiwa monumental tersebut. “Isra Mikraj adalah perjalanan suci yang membawa pesan mendalam tentang pentingnya salat sebagai fondasi spiritual,” ujar Menag dalam sambutannya yang disampaikan melalui media daring pada 27 Rajab 1446 H.

Isra Mikraj, yang dikenal sebagai perjalanan Nabi Muhammad SAW dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha dan dilanjutkan dengan perjalanan spiritual ke Sidratul Muntaha, merupakan titik balik kebangkitan dakwah Rasulullah SAW. Sebagai perjalanan yang sangat istimewa, peristiwa ini juga menandai kewajiban salat lima waktu yang diperintahkan langsung oleh Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW.

Salat Sebagai Amal yang Pertama Dihisab

Menteri Agama Nasaruddin Umar mengutip sabda Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi dan An-Nasa’i, yang menyatakan bahwa salat adalah amal pertama yang akan dihisab di hari kiamat. “Jika salatnya baik, maka baik pula seluruh amalnya. Namun jika salatnya rusak, maka rusak pula seluruh amalnya,” kata Menag mengingatkan umat Islam akan pentingnya menjaga salat.

Menurut Nasaruddin Umar, perintah salat yang disampaikan kepada Nabi Muhammad SAW melalui Isra Mikraj menjadi simbol penting bahwa salat adalah tiang agama. “Salat merupakan tiang agama yang membangun kedisiplinan, ketundukan, dan hubungan erat dengan Sang Pencipta,” ujar Menag.

Isra Mikraj: Perjalanan Rohani Menuju Kesempurnaan

Dalam buku *In the Poep of Muhammad: Understanding the Islamic Experience*, John Renald menyebutkan bahwa Isra Mikraj adalah salah satu dari tiga perjalanan terpenting Rasulullah SAW, selain hijrah dan haji wada. Hijrah dari Makkah ke Madinah menjadi momentum perubahan, sedangkan haji wada menandai kemenangan. Namun, Isra Mikraj merupakan puncak perjalanan spiritual seorang hamba yang bertemu langsung dengan Allah SWT.

Pengalaman rohani Rasulullah SAW saat Mi’raj menggambarkan hakikat spiritual dari salat yang dijalankan umat Islam sehari-hari. “Salat adalah fondasi spiritualitas dan pilar agama yang mengajarkan kedisiplinan serta hubungan yang mendalam dengan Allah,” kata Nasaruddin Umar. Salat, menurutnya, juga mengajarkan pentingnya keseimbangan dalam hubungan dengan Allah dan sesama umat manusia.

Salat sebagai Pondasi Keadilan dan Kesejahteraan

Dalam konteks berbangsa dan bernegara, Nasaruddin Umar menekankan bahwa salat tidak hanya membentuk spiritualitas individu, tetapi juga menjadi landasan dalam membangun masyarakat yang adil dan sejahtera. “Salat mengajarkan kedamaian, keselamatan, dan kedisiplinan, yang pada gilirannya membangun nilai-nilai keadilan, toleransi, dan harmoni sosial,” ujarnya.

Dia menambahkan bahwa kesalehan individual yang tercermin dalam salat harus berdampak pada kesalehan sosial. “Ketika umat Islam memperkuat amal salatnya, maka secara bersamaan mereka juga memperkuat pondasi sosial dan membangun masa depan bangsa yang lebih baik,” ujarnya dengan penuh harap.

Menghadirkan Peradaban yang Penuh Rahmat dan Keberkahan

Di akhir sambutannya, Menag Nasaruddin Umar mengajak umat Islam untuk menjadikan peringatan Isra Mikraj tahun ini sebagai momen untuk memperkuat iman, memperbaiki amal, dan membangun masa depan bangsa yang lebih baik. “Dengan menjadikan spiritualitas sebagai landasan dan salat sebagai pilar utama, mari kita hadirkan peradaban yang penuh rahmat dan keberkahan,” tutupnya.

Peringatan Isra Mikraj diharapkan menjadi inspirasi bagi seluruh umat Islam untuk terus mendekatkan diri kepada Allah SWT, memperkuat ikatan spiritual dalam diri, dan memperbaiki kualitas kehidupan sosial demi tercapainya keadilan dan kesejahteraan bersama. (Red)