CCN, Ibadah haji bukan hanya perjalanan fisik ke Tanah Suci, tetapi juga perjalanan ruhani menuju kedekatan dengan Allah SWT. Setiap langkah dalam rangkaian haji memiliki makna spiritual yang mendalam dan telah dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW, mengikuti jejak Nabi Ibrahim AS.
Dalam artikel ini, kita akan membahas secara ringkas dan jelas langkah-langkah ibadah haji, mulai dari niat hingga tahallul, agar para jamaah dapat mempersiapkan diri dengan baik, baik secara fisik, mental, maupun spiritual.
1. Niat dan Ihram
Langkah pertama dalam ibadah haji adalah niat yang tulus untuk melaksanakan haji semata-mata karena Allah. Niat ini diucapkan ketika berada di miqat, yaitu batas geografis yang ditentukan.
Jamaah laki-laki mengenakan dua helai kain putih tanpa jahitan, sementara perempuan memakai pakaian yang menutup aurat tanpa mengenakan cadar atau sarung tangan. Sejak saat ihram, jamaah harus menghindari segala larangan ihram.
Doa Niat:
“Labbaik Allahumma Hajjan.”
(Aku datang memenuhi panggilan-Mu untuk berhaji, ya Allah.)
2. Tawaf Qudum (Tawaf Selamat Datang)
Setibanya di Masjidil Haram, jamaah melakukan tawaf qudum, yaitu mengelilingi Ka’bah sebanyak tujuh kali putaran, dimulai dari Hajar Aswad.
Ini adalah bentuk penghormatan awal kepada Baitullah dan menandai kesiapan spiritual untuk melaksanakan ibadah besar ini.
3. Sa’i antara Shafa dan Marwa
Setelah tawaf, jamaah melakukan sa’i, yakni berjalan cepat sebanyak tujuh kali antara bukit Shafa dan Marwah, mengikuti jejak Siti Hajar yang mencari air untuk putranya, Nabi Ismail AS.
Sa’i menjadi simbol perjuangan, pengorbanan, dan keikhlasan seorang hamba.
4. Wukuf di Arafah (Puncak Haji)
Wukuf dilaksanakan pada tanggal 9 Dzulhijjah. Jamaah berkumpul di Padang Arafah dari tergelincir matahari hingga terbenam, berdzikir, berdoa, dan memohon ampun.
Inilah puncak ibadah haji, sebagaimana sabda Nabi SAW: “Al-Hajju Arafah.” (Haji itu adalah wukuf di Arafah) – HR. Tirmidzi.
5. Mabit di Muzdalifah
Setelah matahari terbenam di Arafah, jamaah menuju Muzdalifah untuk bermalam (mabit) dan mengumpulkan batu kecil (kerikil) yang akan digunakan untuk melempar jumrah.
6. Melempar Jumrah Aqabah
Pada tanggal 10 Dzulhijjah (Idul Adha), jamaah melempar tujuh batu kerikil ke arah Jumrah Aqabah, sebagai simbol penolakan terhadap godaan setan.
Ini mengingatkan kita bahwa musuh sejati manusia adalah godaan yang merusak keimanan.
7. Tahallul
Setelah melempar jumrah, jamaah mencukur atau memotong rambut (tahallul) sebagai simbol penyucian diri dan penyelesaian sebagian besar rukun haji.
Laki-laki dianjurkan mencukur habis rambutnya (halq).
Perempuan cukup memotong rambut sepanjang satu ruas jari (taqsir).
Dengan tahallul ini, sebagian besar larangan ihram menjadi halal kembali, kecuali hubungan suami istri.
8. Tawaf Ifadah
Tawaf ini dilakukan di Masjidil Haram setelah tahallul dan termasuk rukun haji yang sangat penting. Tanpa tawaf ifadah, hajinya belum sah. Setelah itu, jamaah boleh melakukan sa’i (jika belum dilakukan sebelumnya setelah tawaf qudum).
9. Mabit di Mina dan Melempar Tiga Jumrah
Pada hari-hari tasyrik (11, 12, dan 13 Dzulhijjah), jamaah kembali ke Mina untuk bermalam dan melempar tiga jumrah: Ula, Wustha, dan Aqabah masing-masing tujuh kali setiap hari.
10. Tawaf Wada’ (Perpisahan)
Sebelum meninggalkan Mekah, jamaah melaksanakan tawaf wada’, sebagai bentuk perpisahan dengan Baitullah. Ini menandai berakhirnya rangkaian ibadah haji.
Penutup: Haji Mabrur, Harapan Setiap Muslim
Setiap langkah dalam ibadah haji adalah bentuk penghambaan dan ketundukan kepada Allah SWT. Oleh karena itu, hendaknya setiap jamaah memaknai setiap amal dengan penuh khusyuk dan keikhlasan.
“Tiada balasan bagi haji yang mabrur selain surga.” – (HR. Bukhari dan Muslim)
Semoga Allah menerima haji kita sebagai haji yang mabrur, dan menjadikan perjalanan ini sebagai titik awal transformasi diri menjadi pribadi yang lebih bertakwa.





