CCN, Ibadah haji merupakan rukun Islam kelima yang wajib dilaksanakan oleh setiap Muslim yang mampu, baik secara fisik, mental, maupun finansial. Haji bukan sekadar perjalanan ke Tanah Suci, melainkan momen spiritual yang mendalam dan sarana pembersihan diri secara lahir dan batin. Agar pelaksanaan haji sah dan sempurna, penting bagi calon jamaah memahami tiga komponen utama dalam ibadah haji: rukun, wajib, dan sunnah.
Apa Itu Haji?
Haji secara bahasa berarti menyengaja. Secara istilah, haji adalah menyengaja datang ke Baitullah (Ka’bah) untuk melaksanakan ibadah tertentu pada waktu tertentu dengan syarat dan ketentuan tertentu. Haji hanya dilakukan pada bulan-bulan haji: Syawal, Dzulqa’dah, dan Dzulhijjah.
1. Rukun Haji (Dasar yang Wajib Dipenuhi)
Rukun haji adalah hal-hal pokok yang wajib dikerjakan. Jika salah satu ditinggalkan, hajinya tidak sah meskipun diganti dengan dam (denda).
Berikut 5 rukun haji yang wajib dipenuhi:
1. Ihram
Berniat haji dari miqat (batas wilayah yang telah ditentukan). Ihram menandai dimulainya ibadah haji dengan niat dan larangan-larangan tertentu.
2. Wukuf di Arafah
Berdiam diri di Padang Arafah pada 9 Dzulhijjah, mulai dari tergelincirnya matahari (waktu zuhur) hingga terbenam. Inilah inti dari haji. “Al-hajju ‘Arafah” (Haji adalah Arafah).
3. Thawaf Ifadah
Mengelilingi Ka’bah sebanyak tujuh kali yang dilakukan setelah wukuf dan merupakan syarat sahnya haji.
4. Sa’i
Berlari-lari kecil antara bukit Shafa dan Marwah sebanyak tujuh kali. Sa’i dilakukan setelah thawaf.
5. Tahallul
Mencukur atau memotong sebagian rambut kepala sebagai tanda keluar dari larangan ihram.
2. Wajib Haji (Pelengkap yang Harus Dilakukan)
Wajib haji adalah amalan yang harus dilakukan dalam haji. Jika ditinggalkan, hajinya tetap sah tetapi wajib membayar dam (denda).
Beberapa wajib haji antara lain:
Niat ihram dari miqat yang ditentukan.
Mabit (bermalam) di Muzdalifah setelah wukuf di Arafah.
Mabit di Mina selama hari-hari tasyriq.
Melempar jumrah di Mina (Jumrah Aqabah pada 10 Dzulhijjah dan tiga jumrah lainnya pada 11–13 Dzulhijjah).
Menjaga larangan ihram.
Thawaf Wada’ (perpisahan), khusus bagi jamaah yang akan meninggalkan Mekah.
3. Sunnah Haji (Penyempurna Ibadah)
Sunnah haji adalah amalan yang bila dilakukan menambah pahala, namun jika ditinggalkan tidak berdosa dan tidak berdampak pada sah tidaknya haji.
Beberapa sunnah haji yang dianjurkan:
Mandi sebelum ihram.
Shalat sunnah dua rakaat setelah ihram.
Membaca talbiyah: “Labbayk Allahumma Labbayk…”
Masuk Masjidil Haram dengan kaki kanan sambil membaca doa masuk masjid.
Menyentuh Hajar Aswad dan mencium jika memungkinkan.
Berdoa di Multazam dan Maqam Ibrahim.
Banyak berdzikir, berdoa, dan membaca Al-Qur’an selama pelaksanaan haji.
Penutup: Niat yang Ikhlas, Ilmu yang Cukup
Ibadah haji bukan hanya ritual fisik, tapi lebih dari itu — ia adalah perjalanan ruhani menuju Allah SWT. Oleh karena itu, bekali diri dengan ilmu yang cukup, niat yang ikhlas, serta kesiapan mental dan fisik.
Seperti firman Allah dalam QS. Al-Baqarah ayat 197:
“…dan berbekallah, sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa….”
Semoga artikel ini menjadi panduan praktis dan inspiratif bagi Anda yang akan menunaikan ibadah haji. Semoga Allah memudahkan setiap langkah dan menerima amal ibadah kita. Haji mabrur, pahala tiada banding. (***)





