Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Segala puji bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala, Tuhan semesta alam. Shalawat dan salam semoga selalu tercurah kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, keluarga, sahabat, serta umat beliau hingga akhir zaman.
Banyak pertanyaan yang muncul dari jamaah maupun para pemirsa media dakwah digital, khususnya berkaitan dengan ibadah-ibadah di Tanah Suci. Salah satu yang cukup sering ditanyakan adalah perbedaan antara thawaf sunnah dan umrah sunnah. Artikel ini bertujuan untuk memberikan penjelasan secara sederhana dan mudah dipahami, berdasarkan ajaran syariat serta pengalaman langsung dari para jamaah.
1. Umrah Sunnah: Mengulang Umrah Setelah Umrah Wajib
Umrah sunnah adalah ibadah umrah yang dilakukan setelah seseorang menunaikan umrah wajib. Sebagai contoh, seseorang telah tiba dari Madinah ke Mekkah dan menyelesaikan umrah pertamanya—maka umrah tersebut tergolong sebagai umrah wajib. Jika ia kemudian ingin melaksanakan umrah kembali di hari-hari berikutnya, maka itu disebut umrah sunnah.
Ciri khas dari umrah sunnah adalah:
Harus keluar dari tanah haram ke tanah halal untuk mengambil miqat (batas mulai niat ihram). Contoh tempat miqat terdekat dari Mekkah adalah Masjid Aisyah (Taneem), Ji’ronah, dan Hudaibiyah.
Wajib memakai kain ihram, melakukan niat, serta mengikuti seluruh rangkaian syarat dan larangan ihram sebagaimana umrah wajib: mulai dari thawaf, sa’i antara Shafa dan Marwah, hingga tahallul (memotong rambut).
Dapat diniatkan untuk diri sendiri atau dihadiahkan kepada orang lain, misalnya orang tua yang telah wafat.
2. Thawaf Sunnah: Mengelilingi Ka’bah di Luar Ibadah Umrah
Berbeda dengan umrah sunnah, thawaf sunnah adalah thawaf yang dilakukan semata-mata sebagai bentuk ibadah mendekatkan diri kepada Allah, tanpa disertai dengan niat umrah. Jamaah hanya perlu berada di Masjidil Haram dan mengelilingi Ka’bah sebanyak tujuh putaran dalam keadaan suci dari hadas.
Karakteristik thawaf sunnah:
Tidak perlu keluar ke tempat miqat dan tidak perlu mengenakan pakaian ihram.
Bisa dilakukan kapan saja selama berada di Masjidil Haram.
Termasuk amal ibadah yang sangat dianjurkan (mustahab), terutama bagi mereka yang tinggal atau menetap sementara di Mekkah.
Setiap tujuh kali putaran thawaf dihitung sebagai satu thawaf. Jika seseorang ingin melaksanakan dua thawaf sunnah, maka ia harus melakukan 14 putaran, dan begitu seterusnya.
Kesimpulan
Perbedaan utama antara umrah sunnah dan thawaf sunnah terletak pada niat, persyaratan ihram, lokasi awal pelaksanaan, dan rangkaian ibadahnya. Umrah sunnah memerlukan miqat dan mengikuti semua syarat umrah, sementara thawaf sunnah lebih fleksibel dan bisa dilakukan kapan saja di Masjidil Haram.
Semoga tulisan ini memberikan kejelasan bagi para jamaah yang sedang merencanakan atau tengah berada dalam perjalanan ibadah di Tanah Suci. Semoga Allah memudahkan kita semua untuk berkunjung ke Mekkah dan Madinah, serta menerima setiap amal ibadah kita, baik yang wajib maupun yang sunnah.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.





