Beranda Banten Sanggar Belajar Al Bantani Diskusikan Cerita Rakyat Cilegon Bersama H. Asep Sofwatullah

Sanggar Belajar Al Bantani Diskusikan Cerita Rakyat Cilegon Bersama H. Asep Sofwatullah

755
0

CCN, CILEGON — Sanggar Belajar Al Bantani (AJB Foundation) menggelar diskusi budaya bersama H. Asep Sofwatullah, Ketua Yayasan KH. Wasid, dengan fokus pada penguatan dan penelusuran cerita rakyat Cilegon yang tercatat dalam berbagai literatur lokal, di antaranya Toponimi Cilegon, Babad Cilegon, dan Cilegon Folktales.

Diskusi tersebut dilaksanakan di salah satu kafe yang berlokasi di Jalan Arga Raya, Kecamatan Gerogol, Kota Cilegon, Banten, pada Sabtu, 8 Februari 2026.

Dalam pertemuan tersebut membahas sejumlah tuturan lisan yang hidup di tengah masyarakat Cilegon, sekaligus mencermati kesesuaian dan perbedaan narasi antara cerita rakyat yang berkembang secara turun-temurun dengan cerita yang telah terdokumentasi dalam buku-buku sejarah dan folklor daerah. Diskusi juga menyoroti pentingnya kehati-hatian dalam membaca sumber agar nilai sejarah dan kearifan lokal tetap terjaga.

H. Asep Sofwatullah menegaskan bahwa cerita rakyat merupakan bagian penting dari identitas dan memori kolektif masyarakat Cilegon. Menurutnya, penggalian serta pengkajian terhadap sumber-sumber lokal menjadi langkah strategis dalam menjaga keberlanjutan nilai budaya di tengah arus modernisasi.

“Cerita rakyat tidak hanya menyimpan kisah masa lalu, tetapi juga nilai, pesan moral, dan jejak sejarah yang membentuk Cilegon hari ini. Karena itu, perlu terus dibaca, dikaji, dan diwariskan kepada generasi muda,” ungkapnya.

Sementara itu, Sanggar Belajar Al Bantani (AJB Foundation), H. Ahdi Z. Amri, menyampaikan bahwa kegiatan diskusi ini merupakan bagian dari komitmen sanggar dalam menjadikan ruang belajar sebagai pusat dialog budaya dan literasi sejarah lokal.

“Literatur yang ditulis oleh Tim Penulis Sanggar Belajar seperti Babad Cilegon, Toponimi Cilegon, dan Cilegon Folktales menjadi pintu masuk penting untuk memahami asal-usul wilayah, tokoh-tokoh lokal, serta dinamika budaya masyarakat Cilegon. Ini juga menjadi upaya kami untuk mendekatkan generasi muda pada sejarah daerahnya sendiri,” ujar H. Ahdi Z. Amri.

Melalui diskusi ini, Sanggar Belajar Al Bantani (AJB Foundation) berharap dapat mendorong lahirnya kajian lanjutan, pendokumentasian ulang cerita rakyat, serta penguatan bahan ajar budaya lokal. Kegiatan tersebut diharapkan mampu menumbuhkan kesadaran kolektif masyarakat akan pentingnya menjaga dan merawat warisan budaya sebagai bagian dari jati diri Kota Cilegon. (Cipluk)