Beranda Banten Teater Kafe Ide Angkat Mitigasi Bencana Krakatau di Festival Teater Banten ke...

Teater Kafe Ide Angkat Mitigasi Bencana Krakatau di Festival Teater Banten ke 4

8
0
filter: 0; fileterIntensity: 0.0; filterMask: 0; captureOrientation: 0; brp_mask:0; brp_del_th:null; brp_del_sen:null; delta:null; module: photo;hw-remosaic: false;touch: (-1.0, -1.0);sceneMode: 32768;cct_value: 0;AI_Scene: (-1, -1);aec_lux: 0.0;aec_lux_index: 0;albedo: ;confidence: ;motionLevel: -1;weatherinfo: null;temperature: 38;

CCN, Cilegon — UKM Teater Kafe Ide Untirta menghadirkan karya teater mutakhir yang membedah isu mitigasi bencana, dampak, dan pemulihan dari letusan Gunung Krakatau. Mengusung judul artistik “Igau Ing Pinggir: Tetangga Yang Marah Mulu, Piring Kami Sampai Pecah”, pertunjukan ini dirancang untuk merespons tema kuratorial Festival Teater Banten (FTB) ke-4, yaitu “Banten di Matamu”. (7/11/2026)

Pertunjukan ini tidak sekadar menyajikan tontonan dramatik biasa, melainkan sebuah bentuk documentary theatre dan teater postdramatik yang menyoroti transformasi kebudayaan masyarakat pesisir dalam menghadapi ancaman bencana lintas tiga tempo berbeda: tahun 1883, 2018, dan fenomena terkini di tahun 2026.

Kawasan Labuan, Kabupaten Pandeglang, Banten, dipilih sebagai pusat episentrum riset karena wilayah ini tercatat secara historis sebagai salah satu titik yang paling terdampak langsung oleh peristiwa-peristiwa besar Gunung Krakatau.

Dalam kerangka kerjanya, tim artistik menggabungkan pendekatan multidisiplin—mulai dari vulkanologi, oseanografi, sosial-ekonomi, hingga sosiologi risiko milik Ulrich Beck. Riset ini juga berpijak pada pemikiran teoretikus teater Diana Taylor (The Archive and the Repertoire, 2003) dengan menyejajarkan arsip resmi kolonial/vulkanologi dengan repertoar pengetahuan yang hidup dalam memori kolektif dan tradisi lisan warga setempat.

Fokus pertunjukan berdasarkan tiga tempo yang diangkat:

1. Tempo 1883: Penelusuran arsip kolonial yang disandingkan dengan wawancara tetua adat di Desa Teluk guna melacak jejak ingatan kolektif dan cerita rakyat.

2 . Tempo 2018: Penggalian cerita mendalam bersama para penyintas tsunami Selat Sunda untuk memahami interaksi antara trauma personal dan pemulihan kolektif kampung.

3.Tempo 2026: Observasi langsung terhadap aktivitas harian masyarakat di tengah status Siaga Level III Gunung Anak Krakatau, di mana risiko bencana telah bergeser menjadi bagian dari rutinitas ekonomi sehari-hari.

Berbeda dari pementasan konvensional, Teater Kafe Ide mengaplikasikan metode verbatim tubuh, di mana gerak para aktor direkonstruksi langsung dari hasil observasi gestur nelayan dan warga pesisir saat menuturkan pengalaman bencana mereka.

Elemen panggung dirancang secara minimalis dokumenter dengan memanfaatkan artefak riil seperti foto arsip, peta lama, dan alat-alat nelayan. Sementara itu, lanskap bunyi direkam langsung dari kawasan pesisir Labuan untuk menghadirkan atmosfer autentik.

Mengadaptasi gagasan teater postdramatik Hans-Thies Lehmann dan teori autopoietic feedback loop dari Erika Fischer-Lichte, pementasan ini menempatkan tubuh aktor sebagai medium material (phenomenal body) yang hidup di hadapan penonton. Kehadiran bersama (co-presence) di ruang dan waktu yang sama ini diyakini mampu menciptakan pengalaman kolektif yang mendalam, melampaui batas informasi dari sekadar membaca berita atau laporan data instansi resmi.

Kesuksesan pementasan “Igau Ing Pinggir” ini didukung oleh tim kreatif dan produksi yang solid. Jajaran manajemen dan artistik yang terlibat meliputi:

* Pimpinan Produksi: Layaa Helya Shabrena

* Sekretaris Produksi: Lastri Sulistiani

* Bendahara Produksi: Siti Rukmanah

* Sutradara: Dafoe Lagaligo Pudenta

* Astrada: Widati

* Stage Manager: Ayu Dhea Firda Zahra

* Penata Artistik: Fidarril Rahman

* Penata Lampu: Galang Dwi Saputra Nurachman

* Multimedia: Aisyah Nurul Mardhiyah, Nadillah Hikmah

* Penata Musik: Mandalawangi Gede Pangrango, Labidah Bilqis Salama, Siti Alisiya Rifana

* Penata Rias dan Busana: Shahila Yusri Fauziah, Aniqoh Laily Fideliawati, Alma Ainun Nijma

Sementara itu, pementasan ini dihidupkan di atas panggung oleh deretan aktor berbakat:

* Fath Alam Akbar

* Aisyah Khoirunnisa

* Putri Amellina Adinda Rahman

* Nabila Tiara Hazari

* Prayoga Putra Gunawan

* Wafik Ajijah

* Fia Fatma Novianti

* Sinta Hurin Mulidiah

* M. Rafa Nail

* William Kaka Islami Pasha

* Ihda Arfa Sahara

* Akmal Firdaus

* Ainun Salwa

Direktur Teater Kafe Ide, Alma Ainun Nijma, mengungkapkan bahwa pementasan ini merupakan sebuah gagasan yang sangat menarik karena menjembatani peristiwa sejarah dengan realitas bencana alam, mulai dari letusan dahsyat Gunung Krakatau pada 1883 hingga tsunami Selat Sunda 2018.

“Pertunjukan Teater Kafe Ide dalam Festival Teater Banten 4 di Cilegon merupakan pertunjukan yang menarik karena mengangkat peristiwa sejarah dan bencana alam, mulai dari letusan Gunung Krakatau tahun 1883 hingga tsunami Selat Sunda tahun 2018. Pertunjukan ini tidak hanya memberikan hiburan, tetapi juga menyampaikan pesan tentang pentingnya kesadaran dan kesiapsiagaan terhadap bencana,” ujar Alma Ainun Nijma.

Ia juga menyampaikan apresiasi mendalam terhadap pelaksanaan Festival Teater Banten 4 yang dinilai konsisten menjadi wadah positif bagi seniman teater lokal.

“Saya juga mengapresiasi Festival Teater Banten 4 karena menjadi wadah bagi kelompok-kelompok teater di Banten untuk menunjukkan karya, bertukar pengalaman, dan mengembangkan kreativitas. Harapannya, festival seperti ini bisa terus diselenggarakan agar seni teater di Banten semakin dikenal dan berkembang,” tambahnya.

Melalui garapan ini, Teater Kafe Ide berharap panggung teater tidak hanya berfungsi sebagai ruang estetik, melainkan ruang perjumpaan yang mampu membentuk ulang kesadaran kolektif masyarakat terhadap mitigasi bencana di masa depan.(Azri)