Beranda Banten “Peninggalan Peristiwa Geger Cilegon: Pemerintah Provinsi Banten diharapkan membangun Monumen Perjuangan 1888 Banten...

“Peninggalan Peristiwa Geger Cilegon: Pemerintah Provinsi Banten diharapkan membangun Monumen Perjuangan 1888 Banten di Sumur”

1918
0

Cilegon, CCN – Warga Cilegon dan Serang bersama-sama memperingati peristiwa bersejarah Geger Cilegon tahun 1888 dengan mengadakan napak tilas ke Desa Sumur, Pandeglang. Geger Cilegon merupakan salah satu peristiwa besar di Banten dan Nusantara yang patut diabadikan dalam sejarah. Pada 9 Juli 1888, Banten dipelopori oleh para kyai Cilegon yang gigih, berhasil memerdekakan diri dari penjajahan Belanda. Para pejuang Cilegon dipimpin oleh Tubagus Ismail dan Kyai Wasyid.

Perang berkecamuk selama berhari-hari, dimana pasukan Cilegon di bawah kepemimpinan Kyai Wasyid dan Tubagus Ismail terdesak hingga akhirnya melarikan diri ke Sumur, Pandeglang. Tujuan mereka adalah untuk menyeberang ke Lampung guna menggalang perang lanjutan.

Pada 30 Juli 1888, terjadi perang habis-habisan yang menyebabkan Kyai Wasyid dan Tubagus Ismail, beserta para pejuang Cilegon, gugur dalam pertempuran dengan pasukan ekspedisi pemerintah Hindia Belanda. Belanda membawa pulang 12 jasad pejuang Cilegon ke Cilegon.

Bambang Irawan, salah seorang pengusung napak tilas, menjelaskan bahwa peringatan Napak Tilas yang dilaksanakan pada 30 Juli 2023 ini bertujuan untuk mengenang perjuangan para leluhur dan menginspirasi generasi muda Cilegon dan Banten. Di Sumur, pasukan Cilegon dikepung dari laut dan darat. Di tempat itulah para syuhada Geger Cilegon 1888 gugur dalam pertempuran sengit dengan pasukan ekspedisi Belanda.

Beberapa nama syuhada yang gugur pada saat itu antara lain: Haji Wasyid (Beji), H. Tubagus Ismail (Gulacir), H. Abdulgani (Arjawinangun), H. Abdulgani (Beji), H. Khatab (Sempu), H. Jaya (Citangkil), H. Kasan (Sempu), H. Mohamad Ali (Kubangwatu), H. Rameli (Gulacir), H. Ratib (Kubangwatu), H. Tohar (Mamengger), dan H. Usman (Tunggak). Selain nama-nama tersebut, masih ada syuhada lain yang gugur pada saat itu, diantaranya Haji Jafar, Haji Arja, Haji Saban, Akhmad, Yahya, dan Saliman.

Napak Tilas ini diharapkan dapat menjadi even tahunan “Touring” dari Cilegon ke Sumur, yang mendapat dukungan dari berbagai kalangan. Ide ini termasuk rencana untuk membangun sebuah monumen yang menjadi simbol perjuangan, serta mengembangkan rute dari Cilegon ke muara sungai Cisiih sebagai momen tahunan kegiatan “Touring” oleh berbagai komunitas. Hal ini merupakan bentuk nyata dari napak tilas pertempuran akhir.

Ketua Yayasan KH. Wasyid, Asep Sofwatullah, menyatakan bahwa Napak Tilas ini dapat dijadikan sebagai Wisata Bahari, Wisata Religi, Wisata Perjuangan, dan juga dapat meningkatkan perekonomian masyarakat serta memajukan pariwisata kebangsaan di Wilayah Selatan Banten.

Dimana melalui salah satu wisata perjuangan, kita diingatkan untuk selalu menghargai kemerdekaan yang telah diraih dengan darah dan air mata para pahlawan. Kita juga diingatkan untuk menjaga persatuan dan kesatuan, menghormati beragamnya suku, agama, dan budaya di Indonesia.

Melalui Napak Tilas ini, kita diingatkan tentang nilai-nilai kepahlawanan, semangat pantang menyerah, dan cinta tanah air. Napak Tilas adalah bentuk penghormatan kepada masa lalu, serta menjadi sumber inspirasi bagi semangat kepahlawanan di masa depan. Diharapkan dari peringatan Geger Cilegon dengan Napak Tilas ini, pemerintah Provinsi Banten dapat membangun Monumen Perjuangan Ulama Banten di Sumur sebagai bentuk penghormatan lebih lanjut kepada para pahlawan. (Red)