Beranda ORGANISASI MAN 1 Kota Cilegon mengadakan Peringatan Nuzulul Qur’an, Teguhkan Cinta dan Kedekatan...

MAN 1 Kota Cilegon mengadakan Peringatan Nuzulul Qur’an, Teguhkan Cinta dan Kedekatan dengan Al-Qur’an

691
0
MAN 1 Kota Cilegon mengadakan Peringatan Nuzulul Qur’an

CILEGON – MAN 1 Kota Cilegon menggelar Peringatan Nuzulul Qur’an pada Selasa, 3 Maret 2026. Kegiatan yang berlangsung khidmat tersebut mengusung tema “Momentum Meningkatkan Kecintaan dan Kedekatan dengan Al-Qur’an” serta dirangkaikan dengan khotmil Qur’an oleh siswa dan dewan guru.

Acara ini menghadirkan penceramah H. Diki Hermawan, S.Hum., M.A., dan mendapat dukungan penuh dari Kepala MAN 1 Kota Cilegon, Dra. Hj. Maryati, M.Pd.

Ketua Pelaksana: Wujud Syukur atas Diturunkannya Al-Qur’an

Ketua pelaksana kegiatan, Dede Sila Putri, menyampaikan apresiasi dan rasa terima kasih kepada seluruh pihak yang telah mendukung terselenggaranya acara tersebut.

“Selaku ketua pelaksana, saya mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada seluruh panitia, guru, serta semua pihak yang telah membantu. Tanpa kerja sama dan kebersamaan, acara ini tidak akan berjalan dengan baik,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa peringatan Nuzulul Qur’an merupakan bentuk rasa syukur atas diturunkannya Al-Qur’an sebagai petunjuk hidup bagi umat manusia.

“Semoga melalui kegiatan ini kita semakin mencintai Al-Qur’an, rajin membacanya, memahami isinya, serta mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari. Kami menyadari masih terdapat kekurangan dalam pelaksanaan kegiatan ini, untuk itu kami mohon maaf apabila ada hal yang kurang berkenan. Semoga acara ini membawa keberkahan dan manfaat bagi kita semua. Aamiin ya Rabbal ‘alamin,” tuturnya.

Kepala Madrasah: Al-Qur’an Harus Mengubah Akhlak

Dalam sambutannya, Kepala MAN 1 Kota Cilegon, Dra. Hj. Maryati, M.Pd., mengajak seluruh siswa untuk merefleksikan makna turunnya wahyu pertama kepada Nabi Muhammad SAW.

Ia mengisahkan bagaimana Rasulullah SAW menerima wahyu pertama berupa perintah Iqra’ (bacalah), meski saat itu beliau tidak bisa membaca. Momentum tersebut menjadi awal perubahan besar dari masa jahiliyah menuju peradaban berilmu dan berakhlak mulia.

“Sejarah bukan sekadar masa lalu, tetapi perubahan peradaban. Khotmil Qur’an hari ini adalah bentuk penyambung perjuangan yang telah diwariskan Nabi kita,” ungkapnya.

Ia mengapresiasi panitia, guru PAI, seluruh guru, serta siswa yang telah mengkhatamkan Al-Qur’an.

“Sudahkah Al-Qur’an yang kita baca menjadikan kita lebih disiplin? Sudahkah mengubah sikap kita kepada orang tua dan sesama? Di hadapan Allah tidak ada jabatan, tidak ada gelar, tidak ada nilai rapor. Yang ada hanyalah amal dan Al-Qur’an yang kita amalkan,” tegasnya.

Ia juga mengingatkan bahwa kesempatan membaca Al-Qur’an adalah nikmat yang harus disyukuri.

“Hari ini kita masih bisa membaca. Mereka yang telah mendahului kita ingin kembali ke dunia hanya untuk membaca satu ayat saja, tetapi tidak bisa. Maka jangan hanya di bulan Ramadan, lanjutkan dalam kehidupan sehari-hari.”

Dalam penyampaian penutupnya, beliau memohon agar Al-Qur’an tidak hanya dibaca oleh lisan, tetapi benar-benar masuk ke dalam hati dan membentuk akhlak generasi muda.

“Jadikanlah Al-Qur’an sahabat anak-anak kami. Kuatkan mereka saat rapuh, ingatkan mereka saat dunia melalaikan, jadikan Al-Qur’an pembela di akhirat, cahaya di alam kubur, dan penolong ketika tidak ada lagi yang mampu menolong,” tutupnya.

Tausiyah: Masjid Tempat yang Dicintai Allah

Sementara itu, H. Diki Hermawan, S.Hum., M.A., dalam tausiyahnya menegaskan pentingnya memakmurkan masjid dan menjadikan Al-Qur’an sebagai sahabat sepanjang hayat.

“Orang yang datang ke masjid berbeda dengan orang yang datang ke mal. Masjid adalah tempat yang paling dicintai Allah SWT,” ujarnya.

Ia mengingatkan bahwa bulan Ramadan adalah bulan Al-Qur’an dan momentum untuk memperkuat iman.

“Kalau sudah cinta, pasti ingin dekat. Maka bukan sekadar membaca, tetapi menjadikan Al-Qur’an sebagai sahabat di dunia dan kelak di akhirat,” katanya.

Ia juga mengajak jamaah untuk bersyukur atas nikmat kehidupan dan kesehatan yang diberikan Allah SWT, serta meneladani Rasulullah SAW yang menerima wahyu pertama di usia 40 tahun setelah melalui proses perenungan dan penghambaan yang mendalam.

“Al-Qur’an turun sebagai mukjizat dan petunjuk hidup sepanjang zaman. Jangan sampai kita menyia-nyiakan kesempatan hidup tanpa bersyukur dan beribadah,” pesannya.

Membangun Generasi Qur’ani

Peringatan Nuzulul Qur’an di MAN 1 Kota Cilegon ini diharapkan mampu melahirkan generasi Qur’ani yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga berakhlak mulia serta mampu mengimplementasikan nilai-nilai Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari.

Momentum Ramadan ini menjadi pengingat bahwa Al-Qur’an bukan hanya untuk dibaca, tetapi untuk dihayati dan diamalkan sebagai pedoman hidup sepanjang zaman. (***)