CCN, CILEGON — Komitmen kuat dalam merawat sejarah lokal dan melestarikan warisan tradisi lisan terus ditunjukkan oleh Yayasan Asiatul Jannah Al Bantani. Bersinergi dengan Tim Literasi MAN 1 Kota Cilegon serta didukung Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Banten, gerakan “Babad Cilegon Goes to School” resmi memulai rangkaian perdananya melalui kegiatan Pra-Workshop pada Jumat (30/10/2026) di Aula MAN 1 Kota Cilegon.
Kegiatan yang berlangsung pukul 12.45 hingga 14.15 WIB ini menghadirkan dua narasumber utama sekaligus penulis buku Toponimi Cilegon, yakni H. Ahdi Zukhruf Amri, M.Pd. dan H. Saiful Machsoni.
Dalam pembukaan acara, Penanggung Jawab Program sekaligus Ketua Yayasan Asiatul Jannah Al Bantani, H. Ahdi Zukhruf Amri, menyampaikan rasa terima kasih dan apresiasi setinggi-tingginya kepada Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Banten atas dukungan penuh melalui program Fasilitasi Pemajuan Kebudayaan (FPK).
Dukungan tersebut menjadi dorongan semangat yang besar bagi pihak yayasan dan sekolah untuk terus berinovasi menjaga eksistensi kearifan lokal.
“Hadirnya buku Toponimi Cilegon ini merupakan wujud komitmen kami dalam mengenalkan sejarah dan tradisi lisan Banten. Diterbitkan dalam tiga bahasa—Bahasa Indonesia, Jawa Banten Dialek Cilegon, dan Inggris—serta dilengkapi ilustrasi menarik, buku ini dirancang untuk merawat bahasa daerah sekaligus membuka wawasan global anak sejak dini,” ujar H. Ahdi.
Guna memastikan pesan sejarah dapat tersampaikan secara efektif, Pra-Workshop ini melibatkan perwakilan pelajar secara khusus. Masing-masing tingkatan kelas—mulai dari kelas 10, 11, hingga kelas 12—mengirimkan 3 orang delegasi terbaiknya.
Para utusan siswa ini dibekali pemahaman historis mengenai asal-usul wilayah serta teknik penyampaian cerita. Pembekalan tersebut menjadi modal utama bagi para peserta untuk memproduksi konten cerita digital yang diangkat dari kisah-kisah rakyat unggulan di Kota Cilegon.
Koordinator Tim Literasi MAN 1 Kota Cilegon yang juga bertindak sebagai narasumber, H. Saiful Machsoni, menegaskan bahwa pendekatan literasi sekolah saat ini harus adaptif terhadap perkembangan teknologi modern tanpa meninggalkan akar budaya lokal.
“Kami sangat menyambut positif sinergi ini. Melalui perwakilan tiga siswa dari tiap tingkatan kelas 10, 11, dan 12, kita tidak hanya mengajak mereka membaca sejarah, tetapi mendidik mereka menjadi konten kreator budaya,” tegas H. Saiful Machsoni.
Ia menambahkan, keterlibatan aktif para siswa dalam mengolah cerita unggulan dari 8 kecamatan menjadi karya digital multibahasa akan menjadi bukti nyata bahwa seni bertutur lokal dapat tampil relevan bagi generasi muda.
“Anak-anak didampingi untuk menggali cerita unggulan dari 8 kecamatan di Cilegon, lalu mengemasnya menjadi karya dongeng digital multibahasa. Saat acara puncak nanti, mereka akan mempresentasikan karya tersebut secara langsung di hadapan publik. Ini adalah pembuktian bahwa bahasa daerah dan sejarah lokal bisa tampil modern, keren, dan mendunia di tangan para pelajar,” lanjutnya.
Dalam sesi pra-workshop ini, para pelajar dari tiap rombongan belajar mulai membedah dan memetakan 8 judul cerita rakyat serta toponimi khas Cilegon yang akan diolah menjadi konten digital multibahasa. Judul-judul cerita unggulan tersebut meliputi:
- Sate Bebek Cibeber
- Benteng Suri
- Pengapon
- Kepuh Denok
- Pohon Ketileng
- Burung Merak dan Perak
- Situ Rawa Arum
- Bocah Bandrong
Hasil dari proses kreatif selama pra-workshop ini tidak berhenti pada sesi latihan semata. Konten digital terbaik karya para siswa tersebut dijadwalkan akan dipresentasikan secara mendalam pada agenda puncak Babad Cilegon Goes to School mendatang di hadapan tokoh kebudayaan, sejarawan, dan perwakilan dinas terkait.
Melalui gerakan ini, Yayasan Asiatul Jannah Al Bantani dan MAN 1 Kota Cilegon berharap karya yang dihasilkan mampu menjadi media literasi yang menginspirasi, menanamkan karakter luhur, serta menumbuhkan kebanggaan kolektif terhadap sejarah daerah. (AZRI)





