Alkisah di salah satu desa hiduplah seorang nenek bernama Mbok Imah. Usia Mbok Imah sangat tua. Tubuhnya lemah, kurus dan bongkok. Kerutan-kerutan diwajahnya nampak jelas, seolah menjadi saksi perjuangan hidupnya.
Mbok Imah adalah seorang janda yang ditinggal mati suaminya dua puluh tahun yang lalu. Kehidupan Mbok Imah jauh dari kata mewah, bahkan bisa dikatakan ia sangatlah miskin. Setelah suaminya meninggal, Mbok Imah diwarisi sepetak tanah dan Rumah kecil yang sudah reot sebagai tempat tinggalnya.
Mbok imah mempunyai anak semata wayang bernama Burhan, ia adalah satu-satunya kebanggaan yang Mbok Imah miliki. Mbok Imah rela melakukan apapun demi kebahagian anaknya.
Namun sayang, air susu dibalas air tuba. Burhan sama sekali tak peduli dengan ibunya. Masa ramajanya yang bergejolak, tumbuh dan berkembang ke arah yang salah, Burhan menjadi pemuda nakal. Sikapnya begitu angkuh, keras dan garang. Ia menjadi sosok preman di kampungnya, gemar membuat onar, mabuk-mabukan, berjudi, hingga mencuri barang-barang dan hewan ternak milik warga kampung. Tak jarang warga datang ke rumah Mbok Imah untuk mengadukan kenakalan anaknya.
suatu ketika salah seorang warga datang ke rumah Mbok imah untuk meminta ganti rugi atas kerbaunya yang hilang dicuri Burhan.
Dengan sebilah parang di tangannya, ia menggedor pintu rumah Mbok Imah dengan keras,
“Woy, Mbok! Anak kamu tadi malam bawa kabur kerbau saya!” teriak orang itu marah.
Mbok imah yang tengah berbaring di atas tikarnya terkejut mendengar teriakan tersebut. dengan tertatih Mbok Imah bangun dan membuka pintu.
“Maaf pak maaf, anak saya memang salah,” sahut Mbok Imah ketakutan.
“Terus gimana Mbok! Saya minta ganti rugi!” pintanya kasar.
Nek Imah tak bisa berbuat apa-apa, rasa takut bercampur sedih menyelimuti perasaannya. Tak sadar air matanya mulai menetes. Ia tak sanggup jika harus mengganti kerugian seharga kerbau itu. Untuk kebutuhan sehari-harinya saja ia susah.
Anaknya burhan benar-benar tak peduli dengannya. Ia bahkan jarang sekali pulang ke rumah. Harta yang ia punya satu-satunya adalah sepetak tanah warisan suaminya, tapi kini ia harus kehilangan semuanya demi anak semata wayangnya yang sangat ia sayangi.
Dengan linangan air mata Mbok Imah berkata sendu,
“Iya pak, saya ganti dengan tanah di belakang rumah, semoga cukup ya pak.”
Merasa puas, warga itupun pergi sambil tetap menggerutu.
Kejadian itu berkali-kali Mbok Imah alami. Kehidupan senjanya diisi dengan cacian dan makian para warga yang kesal dan marah dengan kelakuan anaknya. Mbok Imah hanya bisa bersabar dan tabah. Berkali-kali ia meminta maaf pada warga yang melapor karena ia tak sanggup lagi untuk ganti rugi. Hati kecilnya berharap agar anaknya berubah, karena Bagaimanapun, Burhan tetap anak yang paling ia sayang. Senakal-nakalnya Burhan, Mbok Imah selalu tulus menjaganya. Baginya, Burhan adalah harta paling berharga yang harus ia lindungi meski nyawa sebagai gantinya. Sampai suatu hari terjadi peristiwa yang menggegerkan warga desa.
‘BURHAN ANAK DARI MBOK IMAH AKAN DI HUKUM GANTUNG KARNA TELAH MEMBUNUH SALAH SATU WARGA DALAM SEBUAH PERKELAHIAN.’
Kabar itu menyebar dengan cepat hingga sampai ke telinga Mbok Imah. Mbok Imah tercengang mendengarnya. Ia menangis sejadi-jadinya. Ia tak percaya anak yang paling ia sayangi akan mati di tiang gantungan.
Tepat pukul 12.00 siang setelah terdengar pukulan bedug, Burhan bin Fatimah akan digantung. Mbok Imah kalut, ia tak tau harus bagaimana. Dalam hatinya, ia bertekad untuk menyelamatkan anaknya bagaimanapun caranya. Namun warga desa yang sudah terlalu marah pada Burhan tak mempedulikan pembelaan dari siapapun, bahkan dari orang tua yang sudah renta seperti dirinya sekalipun.
Akhirnya pada malam sebelum eksekusi, Mbok imah keluar dari rumahnya membawa beberapa kain di tangannya. ia berjalan tertatih dengan tubuh bongkoknya menuju tempat penggantungan, entahlah apa yang akan ia lakukan.
Saat tiba waktunya eksekusi, terik matahari menyinari luasnya tanah lapang. Satu persatu warga berdatangan, mereka berkerumun untuk menyaksikan proses hukuman berlangsung. Waktu menunjukkan pukul 11.45. Lima belas menit sebelum eksekusi. Tali gantungan sudah melingkar di leher Burhan, penabuh bedug telah siap dengan pentungan besarnya dan algojo bersiap untuk menurunkan talinya.
Para warga bersorak gembira melihat sang pembuat onar akan dieksekusi.
Tibalah saatnya, tepat pukul 12.00, penabuh bedug mulai memukul bedugnya keras-keras.
Namun terjadi keanehan, tiba-tiba saja bedug itu tidak dapat mengeluarkan suara, penabuh itu mencoba sekali lagi, namun tetap tak ada suara yang keluar, penabuh itu heran dengan apa yang terjadi. Sementara, Algojo sudah siap menjatuhkan tali yang mengikat Burhan, hanya tinggal menunggu bunyi bedug sebagai aba-aba.
Pukul 12.05, Algojo mulai heran. mengapa aba-aba belum juga terdengar? Ia terus menunggu sampai pukul 12.15, ia sama sekali belum mendengar suara pukulan bedug, para warga mulai bertanya-tanya.
“Ada apa? kenapa belum ditabuh juga bedugnya?” ucap salah seorang warga.
Penabuh bedug itu kelihatan linglung, ia memutari bedug berkali-kali.
“Bedugnya tidak berbunyi,” jawab penabuh bedug kebingungan.
Para warga yang sudah lama menunggu mulai tak sabar. Mereka berinisiatif untuk membantu. Satu persatu para warga bergantian menabuh bedug dengan keras. Alhasil bedugpun berbunyi pelan. Namun suara bedug itu terdengar aneh, seperti ada sesuatu yang mengganjal bedug itu dari dalam. Salah seorang warga kemudian mengecek ke dalam lubang bedug. Saat itu juga ia terkejut melihat cairan berwarna merah yang keluar dari dalam bedug. Setelah ditelusuri alirannya, betapa kagetnya para warga ketika melihat seseorang tengah meringkuk di dalam bedug sambil menahan kulit bedugnya dengan kain. Tubuh orang itu bersimbah darah karna menerima pukulan berkali-kali. Para warga segera mengeluarkan jasad orang itu.
Tiba-tiba dari tempat penggantungan terdengar teriakan histeris dari Burhan,
“IBU! … IBU!”
(Red.)





