CCN, CIlegon. KH Wasyid tengah diusulkan Calon mendapat gelar pahlawan nasional. Selain KH Wasyid Ki.Arsyad Thawil juga tengah di usulkan Untuk mendapatkan nama gelar pahlawan Nasional oleh dinas pendidikan dan kebudayaan kota Cilegon, Greenotel. Forum Group Diskusi (FGD) Gelar Pahlawan ini pun dihadiri oleh perwakilan keluarga keturunan KH. Wasid dan KH. Arsyad Thawil, Para Tim Pengkaji, Dindikbud kota Cilegon serta undangan.(18 April 2023)
Dinas Pendidikan dan kebudayaan kota Cilegon mencoba mengusulkan 2 (dua) nama calon pahlawan dan dimana kajian gelar pahlawan ini dibantu oleh akademisi dari studi UIN SHM Banten sebagai tim kajian tentang sejarah geger CIlegon.
Hj Heni Anita Susila, Kepala Dinas pendidikan kota CIlegon mengatakan, “Dengan kesempatan ini saya Kepala Dinas Pendidikan Dan Kebudayaan tentu saja mengusulkan perjuangan KH. wasyid dan KH Arsyad Thawil, dari pengalaman saya ketika pernah dibidang kebudayaan saya dulu pernah datang kerumah H. Mansur sebagai narasumber untuk mengetahui sejarah tentang KH Wasyid yang mana untuk dijadikan sebuah film Geger Cilegon yang digarap oleh komunitas seni.
“Semoga kedua tokoh ini bisa diusulkan untuk menjadi tokoh Pahlawan Nasional, hal itu menjadi harapan kita semua. Oleh karena itu kita bekerjasama dengan Dinas sosial walaupun kemarin ada informasi usulan calon di tahun ini ditutup pada tanggal 31 Maret kemarin tetapi dengan upaya kami dan tentunya butuh dukungan supaya usulan ini bisa di terima oleh dinas sosial,”tuturnya.
“Insya Allah dengan niat dan hati yang tulus kita, kita perjuangkan, mudah-mudahan ditahun ini pada saat nanti pada tahun 2023, dapat ditetapkan oleh Presiden Republik Indonesia menjadi pahlawan Nasional,” ungkapnya.
Tini Suswatini, Kabid Kebudayaan Dindikbud Kota Cilegon menyampaikan lewat laporannya, Geger CIlegon sebagai informasi, untuk pelajar, mahasiswa dan masyarakat dengan mengenalkan tokoh CIlegon. Geger Cilegon merupakan identitas kedaerahan, masyarakat kota Cilegon harus mengetahui para pejuang kemerdekaan.
“Peran Ulama dalam Geger Cilegon 1888, terutama peran dari ketiga kyai utama, yaitu Haji Abdul Karim melalui ajaran tarekat Qadiriyah wa Naqshabandiyah yang digunakan sebagai jaringan komunikasi, serta sebagai perata jalan bagi para murid dan pengikutnya dalam perang suci melawan para kolonial Belanda. Haji Wasyid sebagai pelopor sekaligus menjadi pemimpin gerakan perlawanan tersebut bersama dengan K.H. Tubagus Ismail dan pejuang yang lainnya. Haji Wasyid yang mengobarkan semangat para ulama dan masyarakat Banten untuk melakukan perlawan kepada kolonialisme yang telah berkuasa di Indonesia dan bertindak dengan sewenang-wenang,” imbuhnya.
Penjelasan dari KH . Mansyur Muhidin yang merupakan keturunan KH.Wasyid mengatakan,” KH.Wasyid beliau ini pahlawan, Bukan miliki keluarga, tapi beliau berjuang bukan untuk keluarga, tetapi adalah milik bangsa. KH. Wasyid ini tidak butuh gelar kepahlawanannya, pemberontakan ini ditujukan ke Belanda, dimana pasukan-pasukan Belanda yang datang ke Cilegon, dimana situasi sangat mencengkeram ketika mayat Kh. Wasyid datang ke Cilegon tidak ada yang menengok tidak ada yang mendekat, tidak ada yang berani, hingga waktu itu orang datang bukan untuk mengurusi mayat KH Wasyid, tapi semua malah menghindari, pemakaman KH wasyid tidak ada yang mendekat, apa lagi pihak keluarganya karena ada ancaman dari pemerintah Belanda,”ungkapnya.
“Ki Wasyid menikah dengan Atikah, gadis asal Beji, Cilegon. Dari pernikahannya ia dikarunia dua anak: Muhammad Yasin dan Siti Hajar. Siti Hajar menikah dengan Ki Alwi dan memiliki seorang anak bernama Syam’un yang merupakan tokoh pejuang kemerdekaan Indonesia, pendiri Al-Khairiyah Citangkil, dan Bupati Serang periode 1945-1949, “ tuturnya.
Ki Wasyid merupakan seorang pimpinan Geger Cilegon 1888 atau juga disebut sebagai Perang Wasyid. KH Wasyid membuat perencanaan dan mengorganisir seluruh elemen rakyat Banten untuk melakukan perlawanan. Ki Wasyid mengadakan pertemuan di berbagai tempat dan menggunakan tarekat sebagai tempat berkumpul dan bersama-sama melakukan sembahyang dan zikir. Ki Wasyid dan para kiai lainnya dapat bertemu dalam kesempatan ini untuk mengatur strategi dan taktik-taktik serta koordinasi.
Aa Sehu dari keturunan KH Arsyad Thawil mengatakan, “KH Arsyad Thawil adalah orang Banten, tapi beliau tinggal di Mekah sepulang dari Mekah ke Cilegon itu posisinya lagi pertempuran di Toyomerto di daerah selatan daerah persembunyiannya KH Arsyad Thawil pada saat itu. KH Arsyad Thawil ulama yang membantu saat itu.
“Padahal posisinya tidak mempunyai rumah pada saat itu Perhitungan tidak berlangsung lama sehingga KH. Arsyadi Thanwil tidak menceritakan kehidupan di CIlegon,” pungkasnya.
Pengadilan Belanda memutuskan, 89 orang dihukum kerja paksa selama 15 sampai 20 tahun. Sebelas orang dihukum mati, dan hanya 94 orang yang kembali dibebaskan. Sementara, KH Aryad Thawil bersama tujuh orang lainnya diasingkan ke Manado, Sulawesi Utara.
selama di pengasingan, penguasaan KH Arsyad terhadap agama yang komplit menjadi bekalnya. Sepanjang hayat hidupnya di pengasingan, tercurah untuk mendawahkan nilai-nilai Islam.
Di daerah Airmadidi, Kabupaten Minahasa Utara, pula ia menikahi seorang wanita beranak satu dari keluarga Runtu, yang bernama Liena Runtu. Liena Runtu lantas masuk Islam dan berganti nama menjadi Tarchimah. Sikap ini diikuti anaknya, Maria Runtu yang berganti nama menjadi Maryam. “Konon untuk hidup di pengasingan, Ki Arsyad berdakwah di daerah asing, “tuturnya.
(Madrais)





