Pada suatu hari, Anin bermimpi berada di sebuah kereta api yang tidak ia ketahui tujuannya. Karena penasaran, ia memutuskan untuk menjelajahi gerbong demi gerbong. Saat itulah, Anin melihat seorang nenek tua yang tengah memegang cokelat di tangan kanannya.
Dengan perasaan bingung, Nita menghampiri nenek tersebut dan bertanya,
“Nama Nenek siapa? Dan aku ada di mana?”Nenek itu menjawab, ”Cu, nama Nenek Nita. Kamu sekarang berada di kereta ajaib.”
Anin bertanya lagi, “Lalu aku bisa pulang?”
Nenek kembali menjawab, “Tenang ini hanya mimpi, tetapi kamu suatu saat nanti akan kembali ke kereta ini dan memakan coklat pemberian saya, lalu kamu bisa pergi ke dunia peri”
Setelah nenek itu menjawab kembali pertanyaan Anin, tiba-tiba kereta itu bergetar hebat sampai membuat Anin terbangun dari tidurnya yang lelap.
Saat Anin terbangun dari tidurnya, ia melihat ibunya yang berada di samping kasurnya yang sedang berusaha dengan susah payah untuk membangunkannya dengan nada yang tegas, “Aduhhhh si Anin akhirnyaaa bangun juga!!!”
Anin menjawab, “Hehe iya bu maaf soalnya tadi malem aku mimpi aneh”
Ibu menjawab dengan nada marah, “ Mimpi aneh-mimpi aneh, euhhh! kamu yang aneh ibu capek-capek bangunin kamu tapi kamu yang gak bangun-bangun!, sekarang mandi, sarapan, dan berangkat ke sekolah!!
lalu Anin menjawab, “Iya bu”
setelah Anin menjalankan tugas dari ibu kemudian ia pergi ke sekolah.
Sesampainya ia di sekolah ia menghampiri temannya yang bernama Rose yang sedang berada di kantin, lalu mereka berbincang-bincang sejenak. Lalu bel masuk pun memanggil mereka, pelajaran pun di mulai, setalah guru menyampaikan materi pelajaran, lalu ia juga menyampaikan bahwa 3 hari lagi mereka akan melaksanakan kegiatan feel study, guru juga menyampaikan bahwa mereka berangkat menggunakan kereta api, sontak Anin langsung teringat dengan mimpinya semalam, “Aduhhhh aku takut apa yang di bicarakan nenek itu di mimpiku semalam akan terjadi, katanya aku akan kembali ke kereta itu , aku takut itu akan terjadi”
Ternyata dari tadi Rose mendengarkan secara diam-diam apa yang di ucapkan oleh Anin, lalu ia berkata, “Ahhh itu hanya mimpi Anin”
sontak Anin terkejut, “Loh!! ternyata ada kamu di sini, berarti kamu mendengar dong apa yang aku katakan tadi?”
Rose menjawab pertanyaan Anin, “Iya hehe, lagian kamu ngomong sendiri”
Anin menjawab dengan marah, “Tetap saja Rose tindakan kamu itu tidak sopan!!!!”
dengan rasa bersalah Rose meminta maaf kepada Anin atas tindakannya itu, lalu Anin pun memaafkan Rose.
3 hari berlalu waktu keberangkatan mereka sudah tiba, peluit masinis memecah keramaian stasiun, murid-murid pun masuk ke dalam gerbong kereta kecuali Anin yang masih memikirkan mimpi yang dialaminya beberapa hari lalu. Rose yang melihat Anin yang seperti memikirkan sesuatu, lalu Rose mengajak Anin untuk segera naik ke atas gerbong, “Anin ayok kita masuk kedalam gerbong kereta, sudah lah jangan memikirkan mimpi itu”
Anin menjawab, “Oke”(*sambil menghela napas panjang, mencoba mengusir bayangan mimpi itu dari kepalanya).*
Sesampainya ia di dalam kereta, ia mendengar suara gaduh dari segala sisi, Nita yang tidak sanggup mendengar suara itu, kemudian Anin menunutup telinga dan matanya menggunakan kedua tangannya. Setelahnya suara itu seketika menghilang, Nita yang penasaran kemudian membuka mata dan telinga nya, ia tercengang melihat pemandangan yang berada didepannya, ternyata ia melihat orang-orangrang dan suara gaduh itu sudah hilang entah kemana. Kemudian Anin kembali menjelajahi gerbong demi gerbong persis seperti mimpinya beberapa hari lalu. Saat ia menjelajahi kereta itu, tiba-tiba ia melihat nenek yang menurut ia mirip dengan nenek paruh bayah yang di temukannya beberapa hari lalu. Dengan rasa penasaran Anin menghampiri dan bertanya kepada nenek itu dengan badan yang gemetar, “Ne-nek yang kemarin saya temui?”
nenek itu menjawab dan menawarkan coklat yang berada di tangan kanannya, “Iya ini saya nenek yang pernah kamu temui saat itu, sesuai apa yang saya bicarakan kepada kamu, kamu akan kembali ke kereta ini, apakah kamu ingin memakan coklat pemberian saya, kemudiann pergi kedunia peri?”.
Dengan rasa penasaran Anin menerima coklat pemberian nenek itu dan memakannya, setelah Anin memakan coklat pemberian nenek ,lalu kereta itu berjalan dengan laju dan menabrak cahaya yang di sebut perbatasan antara dunia peri dan dunia manusia.
Sesampainya ia di dunia peri, alangkah terkejutnya ia melihat pemandangan yang belum pernah ia lihat sebelumnya, “Indah sekali tempat ini”
kemudian nenek menjawab dengan nada yang arogan, “Ya memang dunia ini berbeda dengan dunia kamu, tapi sih saya biasa saja ya karena saya sering ke sini”
Anin merasa kesal dengan jawaban yang di berikan oleh nenek, tetapi ia tetap bersabar. Setelahnya nenek berpesan kepada Anin untuk pulang menggunakan portal yang berada di hulu sebelum matahari terbenam, lalu nenek itu pergi menggunakan kereta.
Ia melihat salah satu anak laki-laki seusianya dan ia memutuskan untuk menghampirinya, lalu ia berkenalan. Ternyata nama anak laki-laki itu adalah John, John pun mengajak Anin untuk singgah ke rumahnya dan memperkenalkan Anin kepada kedua orangtuanya.
John dan Anin berpamitan untuk pergi bermain, John dan Anin bersenang-senang mulai dari berenang dengan air susu, makan apel coklat, dan bermain sihir, persis sekali dengan dongeng yang di bacakan oleh ibu Anin. Anin tersadar kalau ia harus pulang, lalu ia meminta John untuk mengantarkannya ke portal yang berada di hulu yang sudah di beri tahu oleh nenek Nita, John dengan senang hati mengantarkan Anin ke hulu.
Saat dalam perjalanan tiba-tiba ada penyihir yang menghalalkan jalan mereka untuk terus maju, namanya adalah Dito dia adalah penyihir paling kejam di dunia para peri, Dito bertanya kepada John dan Anin, “Mau kemana kalian?”
Anin berbalik bertanya, “Siapa kamu?”
Dito si penyihir kejam menjawab sambil tertawa, “Aku adalah Dito penyihir paling sakti dan kejam di dunia peri hahahaha!!!!!”
lalu John menggunakan sihirnya untuk melawan Dito dan beradu sihir. Tapi sihirnya tidak bisa membuat Dito kalah, lalu Anin memutuskan untuk memukul Dito dari belakang menggunakan kayu yang berada di samping, “Prakkkkk!!!”, setelahnya John dan Anin berlali ke arah portal, sesampainya mereka, lalu Anin berpamitan kepada John, kemudian Anin masuk ke portal dan pulang dengan selamat. (Tamat)
Penulis ; Cikal Galang Nusa, lahir 13 tahun silam dan saat ini sedang menempuh pendidikan di Sekolah Mutiara Bunda Cilegon. Ketertarikannya pada dunia literasi tumbuh dari kegemarannya menyusun narasi dan belajar menulis cerita pendek di sela waktu luangnya. Selain akrab dengan pena dan kertas, Cikal juga aktif mengekspresikan bakat seninya lewat seni tari. Melalui tulisan-tulisannya, ia ingin berbagi perspektif baru sebagai penulis generasi muda yang penuh semangat.





