Beranda Banten Wali Kota Cilegon Robinsar: Buku Toponimi Cerita Rakyat Selaras Visi Maju, Sejahtera,...

Wali Kota Cilegon Robinsar: Buku Toponimi Cerita Rakyat Selaras Visi Maju, Sejahtera, dan Berkelanjutan

798
0

CCN, CILEGON – Wali Kota Cilegon, Robinsar, menegaskan bahwa kehadiran buku Toponimi Cerita Rakyat Cilegon sejalan dan strategis dengan visi pembangunan Kota Cilegon, yakni Mewujudkan Cilegon Maju, Sejahtera, dan Berkelanjutan.

Menurutnya, tiga kata kunci dalam visi tersebut—Maju, Sejahtera, dan Berkelanjutan—tidak hanya dimaknai dalam konteks pembangunan fisik dan ekonomi, tetapi juga menyentuh pembangunan manusia, budaya, dan penguatan jati diri daerah. (13/02/2026)

“Sebagai Wali Kota Cilegon, saya memandang buku ini selaras dan strategis dengan visi pembangunan Kota Cilegon. Maju bukan hanya soal infrastruktur, tetapi juga tentang masyarakat yang memiliki pengetahuan, kesadaran sejarah, dan kebanggaan terhadap daerahnya,” ujar Robinsar.

Ia menjelaskan, konsep Maju berarti masyarakat Cilegon harus memiliki literasi budaya yang kuat. Toponimi dan cerita rakyat yang dibukukan dalam karya ini dinilai menjadi sumber pengetahuan yang mampu memperkuat daya pikir, daya cipta, serta karakter generasi muda agar tumbuh sebagai warga kota yang berakar pada nilai lokal namun tetap terbuka terhadap kemajuan zaman.

Lebih lanjut, Robinsar menekankan bahwa makna Sejahtera tidak semata-mata tentang kesejahteraan materi. Nilai-nilai yang terkandung dalam cerita rakyat—seperti harmoni, gotong royong, penghormatan terhadap alam, dan relasi antarmanusia—menjadi fondasi kesejahteraan batin dan sosial.

“Nilai-nilai tersebut menjadi syarat utama terciptanya masyarakat yang rukun, berdaya, dan saling menjaga. Inilah kesejahteraan yang merata dan berkeadilan,” katanya dalam kata sambutan dibuku tersebut.

Adapun makna Berkelanjutan, lanjutnya, mengandung tanggung jawab antargenerasi. Melalui pendokumentasian toponimi dan cerita rakyat, ingatan kolektif masyarakat Cilegon dapat terjaga dan diwariskan kepada generasi mendatang.

“Inilah bentuk keberlanjutan budaya yang sejalan dengan keberlanjutan lingkungan, sosial, dan pembangunan kota secara menyeluruh,” tambahnya.

Robinsar juga menyampaikan apresiasi kepada Sanggar Belajar Al Bantani (AJB FOUNDATION), para penulis, budayawan, pendidik, serta seluruh pihak yang terlibat dalam penyusunan buku tersebut. Ia menilai kolaborasi antara pemerintah dan masyarakat menjadi kunci dalam mewujudkan Cilegon yang lebih baik dan bermakna.

Sementara itu, Ketua Sanggar Belajar Al Bantani, H. Ahdi Zukhruf Amri, menyampaikan bahwa buku tersebut merupakan upaya pendokumentasian dan pelestarian 50 kisah tutur masyarakat Cilegon yang selama ini hidup secara lisan.

“Kisah-kisah ini merekam jejak sejarah, spiritualitas, nilai adat, perjuangan rakyat, serta kearifan lokal yang membentuk jati diri Cilegon dari masa ke masa,” ujarnya.

Ia menambahkan, penulisan menggunakan bahasa Jawa Banten dialek Cilegon merupakan bagian dari ikhtiar menjaga bahasa daerah agar tetap hidup, dipahami, dan diwariskan kepada generasi muda.

Adapun karya yang diterbitkan meliputi empat buku, yakni Toponimi Cerita Rakyat yang memuat 50 cerita tutur lisan berbasis kajian etnografis dan data empiris, Kamus Kule Sedanten (dialek Jawa Banten subdialek Cilegon), Folktales Cilegon, serta Babad Cilegon.

Diharapkan, buku-buku tersebut dapat dimanfaatkan sebagai bahan literasi di sekolah, madrasah, komunitas, serta ruang-ruang publik lainnya. Sebab, sebagaimana ditegaskan Wali Kota, kemajuan sejati tidak lahir dari melupakan akar, melainkan dari merawat dan menguatkannya.(***)