Beranda Budaya Penemuan Batu Nisan Beraksara Arab Pegon, Dilingkungan Gempo Kulon Kecamatan Purwakarta Kota...

Penemuan Batu Nisan Beraksara Arab Pegon, Dilingkungan Gempo Kulon Kecamatan Purwakarta Kota Cilegon

1339
2
(Komunitas Jejaka Cilegon mengkaji batu nisan yang bernama syekh Ibrohim, disebuah lereng pemakaman umum dilingkungan Gempol Wetan kecamatan Purwakarta kota Cilegon)

CCN-Senin, 01 Agustus 2022. Penemuan Batu Nisan beraksara Arab Pegon dengan Nama Syekh Ibrohim yang wafat berkisar tanggal 18 ramadhan 1216 Hijriah menjadi sebuah kisah yang menarik jika diteliti lebih dalam.
Penemuan batu nisan ini berada disebuah lereng pemakaman umum dilingkungan Gempol kulon RT 07 RW 03 kecamatan Purwakarta kota Cilegon.
Saiful Iskandar salah satu pegiat sejarah Cilegon beserta rekan rekan Komunitas Jejaka Cilegon mengungkapkan bahwa penemuan batu nisan ini sebenarnya dimulai ketika masyarkat sedang membersihkan area pemakaman kemudian terdapatlah sebuah nisan yang sudah di tutupi dengan kain putih, akan tetapi, karena tidak ada yang tahu terkait bentuk dari nisan tersebut, pegiat sejarah mencoba mengungkapkan batu nisan ini dengan temuan temuan batu nisan yang ada di wilayah Cilegon maupun Kab.Serang.
“Beberapa jenis batu nisan yang ditemui salah satu diantaranya sebagai acuan adalah batu nisan yang berada di kampong Kepaten bojonegara Kab.Serang perbandingan itu dimulai dari segi relief atau coraknya maupun dari jenis batu yang digunakan,” tutur Saiful Iskandar.
Dalam kesempatan itu, penemuan batu nisan yang masih utuh dapat menjadi bahan kajian beberapa peneliti sejarah maupun arkeologi, terlepas dari itu, beberapa nisan dan makam kuno juga ditemukan di lokasi yang hampir sama dengan jarak yang tidak begitu jauh.
Adapun mengapa nisan nisan tua ini harus ditutupi dengan kain putih, bukan bermaksud untuk mensakralkan atau mengkramatkan makam tersebut, akan tetapi untuk menjaga keutuhan nisan daripelapukan atau pengikisan batu yang disebabkan dari air hujan.
“Kami komunitas Jejaka Cilegon terus menggali data (Inventarisir) untuk mengetahui potensi warisan kebendaan dan tak benda yang masih utuh hingga sampai saat ini, sehingga ini dapat menjadi tolak ukur perkembangan pemikiran sebagai sarana edukasi kepada masyarakat,” tambahnya.
(Ahdi Z. Amri)