Nilai-nilai kepahlawanan dalam sejarah perjuangan bangsa ini tidak akan pernah hilang, apalagi tentang semangat kecilegonan. Daerah Cilegon berkembang dan bertransformasi seiring dengan modernisasi dan kemajuan jaman mengakibatkan nilai edukasi kepahlawanan semangat juang para syuhada di peristiwa “Geger Cilegon”
Ubrug Cilegon Milineal (teater wonkkite, Gaksa, Sanggar Sumur Jambu dan Barengan) yang dibina Dewan Kesenian Cilegon berkolaborasi mementaskan drama kolosal Geger Cilegon dengan mementaskan seni pertunjukan di Cilegon dikampung Pegantungan kecamatan Jombang, daerah tersebut merupakan salah satu peristiwa sejarah, dimana beberapa syuhada digantung oleh penjajah. Kemudian hari selanjutnya di Untirta, Serang, jurusan Sosiologi sebagai bahan diskusi edukasi mahasiswa/i pengetahuan sejarah dalam seni pertunjukkan.
Seni pertunjukan ini disutradarai oleh Bahroni, penulis naskah Ahdi Zukhruf Amri, penata musik Edi Febriadi, narator Ikhwan H.S. Pertunjukan di kedua tempat tersebut masih memunculkan beberapa adegan seperti peristiwa Krakatau meletus dan Tsunami, Kramatwatu, perundingan di Jombang Wetan, Kepuh dan peperangan di keresidenan Cilegon.
Pertunjukan ini sebagai peringatan Hari Pahlawan bukan hanya menjadi momentum untuk mengenang jasa para pahlawan, namun juga menjadi momentum untuk mengintrospeksi bagi yang para penonton bagaimana kontribusi yang telah diberikan pada bangsa ini, khususnya Cilegon-Banten serta memunculkan semangat baru dalam implementasi nilai-nilai kepahlawanan. Ketika bahroni ditemui diluar aktifitas berkesenian menyampaikan bahwa pertunjukan ini berdasarkan dari kajian dan antusias para penggiat seni dan kebudayaan yang sudah bekerjasama membangun rekontruksi sejarah kepahlawan sebagai seni pertunjukan




