CCN, CILEGON – Tradisi Padang Wulan kembali dihidupkan sebagai ruang refleksi budaya yang sarat nilai spiritual dan kebersamaan. Secara etimologis, Padang Wulan dimaknai sebagai malam yang diterangi cahaya bulan purnama—sebuah simbol penerangan batin dan kejernihan nurani.
Di berbagai daerah di Nusantara, momentum bulan purnama kerap dimanfaatkan masyarakat untuk berkumpul di ruang terbuka, berdoa bersama, menggelar seni tradisi, hingga berdiskusi tentang nilai-nilai leluhur. Tradisi ini tidak hanya menghadirkan suasana khidmat, tetapi juga memperkuat relasi sosial dan kesadaran budaya.
Sebagai upaya merawat nilai-nilai lokal di tengah dinamika modernitas, Dewan Kebudayaan Kota Cilegon (DKKC) bersama Forum Wartawan Kebudayaan (FORWARD) menggelar Padang Wulan pada Sabtu malam (14/2/2026) di Pendopo Rumah Dinas Wali Kota Cilegon.
Kegiatan ini dihadiri budayawan, seniman, wartawan, komunitas literasi, organisasi pemuda dan mahasiswa, serta masyarakat umum. Padang Wulan menjadi ruang temu lintas generasi untuk memperkuat identitas budaya sekaligus menjalin silaturahmi antar pelaku seni dan budaya.
Ketua DKKC, Ayatullah Khumaeni, menegaskan bahwa Padang Wulan bukan sekadar agenda seremonial.
“Di bawah cahaya bulan purnama, kita diajak menerangi diri dengan nilai, etika, dan kearifan lokal,” ujarnya.
Ia menyebut, kegiatan ini merupakan bagian dari komitmen membangun ekosistem kebudayaan yang inklusif, kolaboratif, dan berkelanjutan di Kota Cilegon. Padang Wulan direncanakan menjadi agenda rutin bulanan di Rumah Dinas sebagai ruang dialog dan penguatan peran budaya dalam pembangunan daerah.
Senada, Ketua FORWARD, Rizal Arif Baihaqi, menilai Padang Wulan memiliki makna simbolik yang mendalam.
“Cahaya bulan bukan sekadar fenomena alam, tetapi perlambang harapan dan ketenangan. Ia mengajak kita untuk merefleksikan diri,” katanya.
Rangkaian kegiatan diawali dengan hadorot yang dipimpin Ustadz Sadeli, menghadirkan lantunan shalawat khas Banten yang memperkuat nuansa religius. Suasana khidmat terasa saat peserta larut dalam pujian yang sarat makna spiritual.
Acara dilanjutkan dengan diskusi budaya bertema “Munggahan dalam Perspektif Budaya Banten dan Keislaman” menghadirkan budayawan Banten Abah Yadi serta KH Muktillah selaku ulama dan Dewan Penasehat DKKC. Diskusi mengulas tradisi munggahan sebagai momentum penyucian diri menjelang Ramadan, yang tak hanya dimaknai sebagai makan bersama, tetapi juga penguat silaturahmi dan keimanan.
Kemeriahan semakin terasa melalui penampilan Komunitas Penyanyi Jalanan (KPJ) Cilegon yang membawakan lagu-lagu bernuansa sosial. Sebagai simbol kebersamaan, peserta menikmati hidangan rabeg—kuliner khas Banten yang kaya rempah dan filosofi kebersamaan.
Kegiatan ditutup dengan doa bersama, memohon keberkahan serta menguatkan tekad menjaga harmoni budaya dan nilai keislaman di tengah masyarakat.
Pemilihan Rumah Dinas sebagai lokasi kegiatan juga menjadi langkah strategis dalam menghidupkan ruang bersejarah sebagai pusat aktivitas kebudayaan. Selain berfungsi sebagai pusat pemerintahan, bangunan tersebut diposisikan sebagai ruang dialog, refleksi, dan penguatan identitas lokal.
Hadir dalam kegiatan ini sejumlah tokoh dan elemen masyarakat dari berbagai latar belakang—adat, pemuda, pers, organisasi kemasyarakatan, hingga unsur pemerintahan—menegaskan bahwa Padang Wulan bukan sekadar seremoni, melainkan ruang kolaborasi lintas generasi.
Dengan semangat kebersamaan, Padang Wulan edisi perdana ini menjadi penanda bahwa budaya dapat menjadi titik temu seluruh elemen masyarakat—merawat tradisi, memperkuat identitas, serta meneguhkan Cilegon sebagai kota yang berdaya secara kultural.





