Japun! Awaking kiwari // Deuk make pasang pasaduan, // Pasaduan guru. Ahung! // Pak sampun! // Majar ahung tujuh balen // Ahung deui, ahung deui! // Ahung manglunga, // Ahung manglingeu, // Ahung mangdegdeg, // Ahung manglindu. // Paksi kangkayang // Basaning angka, // Hayam beureum putih kukang, // Anjing belang sina tawe, // Mapay paksi ka hilirkeun, // Rempuh bayu ti galunggung, // Mapag bala ti Jasinga, // Sasakala Indra Baya. // Ambuing sira mangumbang, // Bapaing terus mangambung, // Pangjungjungkeun, // Panglawungkeun // Sora awaking. // Ka luhur ka nu di manggung, // Ka nu wenang mucuk ngibun, // Ka atina sukma langlaung, // Gurit leungit cakra mega, // Wekas tuang ka hineban, // Korejat milepas manten. // Reuwas teuing ku impian, // Ngimpi ngadu picis di langit, // Totolan di awang-awang, // Ditujah tuang tilepan, // Diwaca henteu kawaca, // Taya panca aksarana. // Tujahkeun // Ka lautna, // Ka harusna, // Ka sagara leuleuy, // Ka sagara ireng, // Ka sagara lolopangan.
(Mantra Baduy Banten)
Proses dan kerja kreatif artistik dan intelektual, terhubung dan terpengaruh lingkungan, situasi hidup dan kehidupan, pergaulan lintas komunitas dan bangsa –termasuk pertukaran wacana, gagasan, serta keterhubungan akademik, yang salah-satunya terhubungan dan terkoneksi secara global berkat perkembangan teknologi informasi. Di lingkungan akademik dan perguruan tinggi, sebagai contoh, teori dan diskursus yang dominan adalah diskursus dan teori dari Barat, tidak terkecuali teater. Sudah dimaphumi dan dirasakan pula sejak lama, yah sejak kolonialisasi di Indonesia oleh Belanda, hingga saat ini.
Kehadiran dan pengaruh kuat diskursus dan teori Barat itulah yang membentuk corak dan bentuk kebudayaan dan kerja kreatif modern Indonesia. Dari mulai teater hingga sastra. Meskipun demikian, warisan bentuk dan karakter lokal budaya dan sastra (terutama teater rakyat dan sastra lisan) Indonesia tidak musnah. Dalam teater, ada upaya untuk memadukan teater Barat dan warisan seni pertunjukkan rakyat Indonesia, seperti yang dilakukan Arifin C. Noer dengan mengadopsi lenong dan Putu Wijaya yang menghidupkan kembali plesetan dan seni pertunjukkan yang lepas dan bebas seketika sebagaimana yang ada dalam ludruk dan srimulat sembari memasukan unsur-unsur seni pertunjukkan Bali-nya.
Di Banten, upaya untuk mengolah dan mengaktualkan potensi-inspiratif khazanah intelektual dan kultural Banten perlu juga dilakukan bagi/dalam/untuk teater. Sembari bersikap afirmatif pada perkembangan teknologi informasi untuk memperkaya tampilan dan pementasannya. Teater sudah seyogyanya sanggup mengungkapkan sekaligus merefleksikan jiwa dan suara zamannya ketika mengangkat basis kekayaan tradisi dan khazanah yang ada dan yang diwariskan, yang masih tetap relevan dan memiliki nilai artistik dan filosofi yang tetap aktual untuk kekinian.
Tentu bukan dalam rangka akal-akalan sebagaimana yang dulu ‘dituduhkan’ oleh Umar Kayam. Namun lebih pada upaya untuk mengaktualkan relevansi kearifan lokal kita sembari tidak mencampakkan khazanah intercultural dan intertekstual lain yang sekiranya relevan pula menjadi produk seni pertunjukkan yang segar ketika, semisal dalam khazanah dan diskursus akting di mana saat ini kita bisa belajar dari perkembangan teknologi informasi dan media sosial, seperti youtube, ketika kita bisa mengakses contoh-contoh akting hebat dari para aktor dunia.
Pun kita bisa mengangkat ragam warisan dan khazanah budaya bangsa kita ke panggung atau pentas pertunjukkan –dari mulai kebiasaan dan proses pangan dan proses penyediaan pembuatan kuliner, seperti tradisi adang atau gotong-royong memasak masyarakat Banten ketika hajatan untuk menjamu para tamu yang datang, proses pembuatan gerabah di Bumi Jaya, Ciruas Kabupaten Serang, Banten atau kondisi dan situasi para buruh dan kehidupan mereka di kawasan-kawasan industri dan pabrik di provinsi Banten, yang banyak dari mereka adalah pendatang atau urban, dan yang lainnya, seperti konflik sosial-budaya-politik masyarakat Baduy menghadapi gempuran perkembangan teknologi informasi yang mulai merambah dan di akses oleh anak-anak muda mereka.
Warisan dan budaya bangsa kita, seperti cerita rakyat dan pertunjukkan rakyat, semisal Ubrug, sesungguhnya bisa menjadi bahan pengayaan dan inspirasi-kreatif kerja seni kita, yang dalam hal ini seni pertunjukkan, yang barangkali pula dalam rangka ‘mencari penemuan-penemuan’ atau ‘inovasi-inovasi’ segar kerja kreatif kita, yang diracik dan diadaptasikan dengan wawasan-wawasan kontemporer dan pembacaan kita atas khazanah dan wawasan serta khazanah teoritik-intelektual antara budaya dan antar-akademik. Sehingga kita bisa merayakan pluralitas atau keberagaman artistik itu sendiri.
Dalam falsafah Nusantara, seni sesungguhnya wujud penghayatan transenden, yang acapkali merupakan pemaknaan pemahaman religius. Sebagaimana teater pada masa purba dan kunonya adalah ritual keagamaan sebelum menjadi seni pertunjukkan rakyat dan estetika keraton. Seni dalam khazanah filosofis keagamaan Nusantara, termasuk teater, adalah miniatur dan wujud gambaran dunia tengah –manifestasi harmoni yang mengandung makna dan kualitas transenden atau sakral.





