CCN, CILEGON – Dalam rangka program Sasaka Cibanten 2025 yang digagas oleh Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah VIII, sekelompok seniman dan pegiat budaya dari Kota Cilegon menampilkan karya teater puitis bertajuk “Nyanyian Cibanten (Dari Hilir Ngederes Cibanten)” pada Sabtu, 25 Oktober 2025, di Benteng Speelwijk, Banten Lama.
Karya ini digarap oleh H. Ahdi Zukhruf Amri, seniman dan penggerak kebudayaan asal Kota Cilegon, bersama para aktor muda dari berbagai sekolah. Melalui karya ini, Ahdi mengajak masyarakat untuk merenungkan kembali hubungan manusia, air, dan peradaban.
“Ngederes Cibanten bukan sekadar pertunjukan, tapi permenungan. Tentang air yang menjadi saksi kehidupan manusia di tanah Banten, dan tentang bagaimana kita perlu kembali mendengar bisikan alam,” ujar H. Ahdi Zukhruf Amri, penggarap sekaligus sutradara pertunjukan.
Pertunjukan ini memadukan puisi, musik, dan teater tubuh biomekanik dalam dua bagian besar: Hulu dan Hilir. Di setiap adegannya, air menjadi metafora kehidupan — tentang harmoni yang mulai retak, dan harapan yang masih mengalir di dasar hati manusia.
Ikhwan H. D, selaku asisten sutradara (Astrada), menuturkan bahwa proses kreatif karya ini diawali dengan riset budaya di sepanjang aliran Sungai Cibanten.
“Kami turun langsung ke lapangan, melihat kehidupan masyarakat di bantaran sungai. Dari situ kami menemukan banyak cerita — tentang air yang menua, tentang manusia yang lupa akan sumbernya. Dari situlah lahir karya ini. Jadi bukan sekadar pentas, tapi perjalanan spiritual dan ekologis,” tutur Ikhwan H. D.
Selain menjadi refleksi ekologis, Nyanyian Cibanten juga membuka ruang pembelajaran bagi generasi muda. Para siswa dari SD, SMP, dan MAN di Kota Cilegon terlibat aktif dalam latihan selama lebih dari sebulan.
Usai pementasan, orang tua Cikal menyampaikan kesan yang mendalam atas kesempatan anaknya terlibat dalam karya kebudayaan ini.
“Terima kasih yang tak terhingga, Kang Haji sudah melatih dan membimbing anak-anak. Harapan kami jangan sampai di sini saja, karena anak-anak haus dengan ilmu. Kami sekeluarga mohon maaf yang sebesar-besarnya atas kekurangan, dengan jam terbang dan pengalaman yang masih minim. Anak akan belajar lebih baik lagi.” ujar orang tua Cikal Galang Nusa dengan penuh haru.
Ungkapan itu menjadi simbol bagaimana Ngederes Cibanten bukan hanya karya pertunjukan, tetapi juga proses pendidikan kebudayaan yang menyentuh ranah keluarga dan masyarakat.
“Seni adalah ruang belajar bersama. Anak-anak bukan sekadar tampil di panggung, tetapi belajar tentang kehidupan, kerja sama, dan cinta terhadap alamnya,” tambah Ahdi Zukhruf Amri.
Tim Produksi;
Naskah & Sutradara: H. Ahdi Zukhruf Amri
Astrada: Ikhwan H. D
Penata Musik: Edy Febriadi
Pendanaan & Make Up: Sultoniyah
Crew: Alimah
Para Aktor;
Ghathfan Putra Pradipta (SMPN 2 Cilegon)
Beby Kirana Nurfazriana (SDN Cibeber 3)
Cikal Galang Nusa (SMP Mutiara Bunda Cilegon)
Fauzeni Oktarina Yusri (SMPN 3 Cilegon)
Aina Dea Azahra (MAN 1 Cilegon)
Kayla Alifiya Nurra (MAN 1 Kota Cilegon)
Najib (MAN 1 Kota Cilegon)
Anggun Yunita (MAN 1 Kota Cilegon)
Sharinah Ilona Arasuli (SMPN 2 Cilegon)
Ikhwan H. D dan Alimah (Teater Wonk Kite)
Dari Hilir Cibanten, karya ini menyalurkan pesan tentang air, manusia, dan kebudayaan yang harus berjalan seirama. Sebuah harapan agar kesadaran ekologis dan spiritualitas lokal terus tumbuh di hati generasi muda Banten.
“Semoga dari Hilir Cibanten, mengalir doa dan tekad baru — bahwa air, manusia, dan kebudayaan akan terus seirama menjaga bumi Banten tercinta,” tutup Ahdi Zukhruf Amri.





